Temu.
Part of Pak Marion & Wistara.
Wistara saat itu sedang sibuk merapihkan bunga-bunga yang baru datang dari supplier. Membuka bungkus kertasnya, memotong batang yang sekiranya terlalu panjang, juga membuang daun-daun yang kondisinya sudah tidak bagus.
Hari ini banyak bunga mawar yang datang, dari yang berwarna putih, merah muda hingga yang kuning. Wistara bersenandung pelan seiring dengan alunan lagu yang terputar dari speaker. Meski begitu, Wistara tetap fokus membersihkan bunga mawar dengan penuh kehati-hatian, sebab duri dari bunga cantik itu tajam dan bisa melukai tangannya.
“Ah!” Wistara memekik begitu tak sengaja jarinya tertusuk duri, dengan spontan ia kibaskan tangannya meskipun tidak terlalu mengurangi nyeri.
Sedang pria yang sedari tadi hanya di luar toko Wistara kini terburu-buru masuk begitu dia melihat lelaki manis itu terluka. Sejak kedatangannya ia memang sengaja hanya berdiam diri di depan jendela, menatap Wistara yang sibuk sendiri hingga tidak menyadari keberadaannya.
“Wista!” yang dipanggil pun menoleh, seketika matanya berbinar melihat siapa yang memanggilnya. Melupakan sejenak nyeri di salah satu jarinya.
“Bapak!” benar, pria yang menatap Wistara dari luar toko memang Marion. Pria yang beberapa bulan ini mengisi hati dan juga yang selalu menemani hari-hari Wistara.
“Sakit ya? Ayo ke dokter, nanti infeksi lukanya,” Marion berujar dengan nada paniknya, jari lentik yang terluka itu ia berikan tiupan pelan. Wistara terkekeh dibuatnya.
“Nggak perlu… Cuma luka kecil, Pak…” Wistara melirik ke bawah di mana ada beberapa paper bag yang dibawa Marion, “Pak, itu banyak banget buat apa?”
“Hm? Oleh-oleh buat kamu,” Marion menjawab masih dengan meniup jari Wistara, padahal rasa sakitnya sudah hilang sekarang.
“Bapak udah… Udah gak sakit,” ditariknya jari telunjuknya itu dari genggaman Marion, “Bisa-bisanya kepikiran beliin aku oleh-oleh…” hendak memprotes lebih panjang, namun Wistara dibungkam dengan pelukan yang Marion berikan. “Eh…?”
“Dilarang protes, Wista. Saya cuma mau buat kamu senang.”
“Iya… Iya. Kangen banget ya datang-datang langsung peluk?” Wistara berujar dengan sedikit menggoda, ia balas pelukan Marion dan dengan jahilnya mencolek pinggang pria yang lebih tinggi darinya itu.
“Hmm… Saya rindu sekali. Wanginya gak ada yang sama seperti kamu di Jepang,” Marion semakin mengeratkan dekapannya, membaui aroma yang satu minggu ini ia rindukan. Entah, aroma yang menguar dari Wistara seperti memiliki candu tersendiri untuknya, wanginya bisa membuat Marion tenang. Padahal, parfum yang digunakan Wistara juga tidak yang memiliki harga mahal, hanya parfum biasa yang mudah dijumpai di toko-toko.
“Aku juga kangen sama Bapak…” Wistara berikan usapan pada punggung lebar itu, “Tapi boleh dilepas dulu nggak, Pak? Kayanya ada yang pesan bunga, itu HP buat customer bunyi.”
Marion melepaskan pelukannya sembari tertawa, mengucap maaf lalu mengemasi paper bag yang tadi ia geletakkan begitu saja. Sementara Wistara sudah kembali di balik konter dan membuka pesan di ponselnya. Sesuai dugaannya, ada pelanggan yang memesan dua buket bunga.
“Ada yang pesan, ya?” tanya Marion, kini ia sudah duduk di sofa yang tersedia di dalam toko.
“Iya, mau dibuatkan dua buket,” Wistara menjawab sembari mengambil beberapa bunga di dalam bucket yang berisi bunga-bunga.
Ngomong-ngomong, Wistara hanya sendirian hari ini. Dua pegawainya sedang libur, di hari senin memang jadwalnya mereka libur karena kebetulan saat hari senin toko bunganya tidak terlalu ramai dan Wistara masih sanggup menangani seorang diri.
Saat Wistara masih sibuk memilih bunga-bunga yang diminta pelanggannya tiba-tiba Marion menyeletuk, “Wista, ajari saya merangkai bunga, boleh?”
“Eh?” lelaki manis itu terkejut, lebih tepatnya keheranan. “Boleh kalau bapak memang mau…”
Marion bangun dari duduknya dan beralih ke meja yang ada di samping konter, tempat di mana Wistara akan merangkai bunga-bunganya. “Ini saya harus siapkan apa dulu?”
“Itu airnya yang dibotol boleh minta tolong diisi dulu, Pak? Sama bawakan plastik bening itu yang di rak pojok,” Wistara berbicara dengan hati-hati, sebetulnya ia sungkan karena memerintah seorang CEO perusahaan besar.
Tak disangkanya, Marion begitu semangat menjalankan perintahnya. Senyuman terpatri di bibir pria berumur tiga puluhan itu. Membuat Wistara terkekeh pelan melihatnya.
“Itu saja, Wista? Ada lagi?” tanya Marion ketika sudah mendapatkan barang yang dipinta Wistara.
“Iya, itu aja Pak. Ini kapasnya masih banyak di meja.”
Wistara sedang memilah bunga yang akan digunakannya, diletakkannya bunga-bunga itu di atas meja. “Tolong bantu sortir kelopaknya dong, Pak?” disodorkannya bunga mawar putih itu pada Marion, “Ini, yang sekiranya agak layu dilepasin begini ya, Pak,” Wistara menjelaskan dan juga memberikan contoh seperti apa yang harus dilakukan pria di sampingnya itu.
“Oke…” Marion menjawab sembari memulai pekerjaannya, dengan teliti ia menarik pelan kelopak mawar itu. “Ini betul begini?” ia tunjukkan hasil pekerjaannya pada Wistara dan mendapatkan anggukan juga sebuah senyuman sebagai jawaban.
“Pinter deh Bapak, sekali dikasih tau langsung bisa!” pujian itu Wistara lontarkan, tentu saja si penerima pujian begitu senang hasil kerjanya diapresiasi.
“Nah, kalau bunga carnation nih direkahin dikit gini, Pak biar jadi lebih cantik mekar bunganya. Tapi pelan-pelan ya,” Wistara kembali mencontohkan bagaimana cara conditioning bunga carnation itu.
“Cantik seperti kamu ya?”
Celetukan itu membuat Wistara bersemu, nampak samar merah muda menghiasi kedua pipinya. “Kalau kerja dilarang gombal!”
Riuh tawa terdengar dari Marion yang tampak puas menggoda Wistara. Sedang lelaki manis di sampingnya itu cemberut dengan pipi yang menggembung sedikit. Menggemaskan, membuat Marion tak tahan mengecup pipi gembilnya.
“Ihh, malah cium cium!” Wistara mendengus pelan, tapi tidak bisa dipungkiri kalau ia senang dengan afeksi dari Marion. Hanya saja… ia malu untuk mengutarakannya.
“Kamu jangan terlalu gemas makanya.”
“Gak ada yang gemes… Udah ah, ini lanjutin dulu,” Wistara kembali fokus dengan pekerjaannya mensortir kelopak juga daun pada carnation. “Udah semua kan, Pak?” tanyanya, dan ia mendapat anggukan sebagai balasan.
“Kalau udah, rangkainya gini,” Wistara mengambil satu carnation dan satu mawar putih, “Ini rangkainya disilang ya, Pak. Jadi bikinnya satu carnation satu mawar gitu, Bapak paham?” jelas Wistara, dan lagi-lagi Marion hanya menganggukkan kepalanya.
“Good! Saya mau rangkai mawarnya ini, Bapak lanjutin aja dulu.”
Setelah berkutat cukup lama dengan bunga-bunga itu, Marion menyelesaikan buketnya. Ia tunjukkan bunga yang digenggamnya itu pada Wistara, “Ini sudah, Wista. Diapakan lagi?”
Wistara menoleh dan cukup takjub dengan hasil rangkaian Marion, “Woah, rapi sekali~ Itu kalau sudah tangkainya yang bawah potong sejajar ya, Pak.”
“Oke…” Marion mulai memotongi tangkainya agar terlihat sejajar dan rapi, “Sudah, Wista. Lalu diapakan lagi?”
“Itu bapak ambil plastik beningnya tadi, kapasnya ini juga masukin, terus kasih air yang di botol tadi secukupnya ya. Kalau udah itu diikat pakai tali ini,” Wistara jelaskan denga detail apa saja yang harus dilakukan Marion, sembari memberi contoh karena buket buatannya juga siap dikemas.
Marion yang tanggap pun segera mengikuti instruksi dari Wistara, mengerjakannya dengan hati-hati agar tidak merusak rangkaiannya.
“Kalau sudah, dilapisi dulu pakai ini. Ini namanya kertas tisu, Pak. Yang punya Bapak pakai yang biru ini ya,” Wistara menyodorkan beberapa lembar kertas itu pada Marion. “Ikutin aku ya pak caranya.”
Wistara mulai menyatukan kertas itu dengan bunga rangkaiannya, diikuti Marion yang kini terlihat sangat fokus hingga alisnya menyatu. Setelah selesai dengan kertas tisu sebagai lapisan awal, Wistara melanjutkan dengan kertas yang lebih tebal untuk membungkusnya. Masih dengan telaten juga menerangkan pada Marion bagaimana cara membungkus bunganya agar lebih rapi dan menjadi lebih cantik.
“Nah, selesai! Tinggal dikasih pita aja, Pak.” tubuh Wistara bergoyang kecil saat melihat hasil buket miliknya, ia menolehkan kepalanya dan melihat milik Marion lalu bertepuk tangan saat melihat hasilnya, “Keren! Bapak pintar sekali!”
“Hehehe duh, saya kok malu ya, Wista…”
“Huh…? Malu kenapa?”
“Dipuji kamu begitu, saya malu.”
“Bapak kayak remaja aja,” Wistara tertawa mendengar pengakuan dari Marion.
Sedikit banyak ia terheran karena tidak hanya satu dua kali saja ia memuji pria itu, namun reaksinya selalu sama. Tersipu, tetapi tetap mengutarakan isi hatinya pada Wistara.
Kan Wistara gemas jadinya.