Sebelumnya,

Asmaraloka.
4 min readJun 8, 2023

--

Part of Keluarga Cemara

Setelah kejadian kemarin, Gala menjadi lebih pendiam, ia masih mengatur segala hal yang berkecamuk di kepalanya. Hingga tanpa sadar perlakuannya pada sang suami pun berubah. Gala tidak lagi memberikan pelukan saat keduanya terlelap, Gala tidak lagi memberi ciuman hangat pada pipi juga perut sang suami ketika baru bangun di pagi hari, Gala tidak lagi tersenyum manis saat suaminya membantunya memakai dasi, hal-hal kecil yang biasanya ia lakukan pun lenyap begitu saja.

Entah, Gala kesal dan juga marah pada dirinya sendiri. Ia merasa gagal mendidik anaknya yang baru menjejaki fase remaja, karena sudah disibukkan dengan pekerjaan hingga dirinya lalai memperhatikan sang anak. Terlebih saat Kala sedang mengandung anak kedua mereka, membuat Gala lebih mencurahkan perhatiannya pada sang suami. Gala memang bodoh, ia akui itu.

Dan tanpa sadar, diamnya Gala membuat suaminya jadi stress sendiri. Kala bingung dengan perubahan suaminya akhir-akhir ini, meskipun sang suami tetap perhatian padanya, tapi Kala tidak lagi merasakan kehangatan itu. Finalnya, saat ia sudah susah payah membuat beberapa loyang brownies untuk suaminya— berharap agar suasana hati Gala membaik, namun nyatanya ditolak begitu saja oleh sang suami. Membuat hati Kala terasa seperti dicabik-cabik, dadanya sesak karena penolakan itu. Padahal biasanya Gala akan dengan senang hati memakan apa pun yang dibuatnya, terlebih makanan manis, karena Gala juga seorang sweet tooth.

Akhirnya Kala memutuskan untuk menginap saja di rumah orangtuanya, ia sedih, sakit hati karena sang suami. Paling tidak ia bisa mengalihkan pikirannya untuk sementara saat di rumah Ibunya. Bersama dengan puteranya, Kala menaiki taksi menuju rumah orangtuanya.

“Papa okay?” tanya Chandra mencoba memecah keheningan saat keduanya sudah berada di dalam taksi, “Ayah akhir-akhir ini jadi pendiam sekali… Masih karena Chan ya, Pa?”

Kala menggeleng menanggapi, “Papa gak apa-apa, sayang. Mungkin Ayah lagi capek ya? Kerjaannya lagi sibuk, kan…”

“Ayah gak pernah begitu… Chan jahat banget ya, Pa bikin Ayah berubah?” Chandra menatap Papanya sendu, lalu memeluk sang Papa dari samping dan mendusal pada dada hangat Papanya.

“Nggak kok, Adek gak jahat, nakal sedikit tapi gak jahat,” elak Kala, ia usap-usap surai anak lanangnya itu, “Asal gak dilakuin lagi ya? Adek udah janji kan? Nanti kalau sudah besar, sudah bekerja Adek mau apa juga boleh karena nanti Adek pasti tahu konsekuensi dari setiap perbuatannya dan akan berpikir lagi saat ingin bertindak,” lanjut Kala menasehati, membuat Chandra semakin menenggelamkan wajahnya pada dada sang Papa.

“Iya Papa… Chan janji, Chan mau jadi anak baik lagi, maafin Chan ya, Pa?”

“Sudah, Papa sudah maafkan Chan kok. Tapi nanti mungkin Adek bisa bicara sama Ayah ya? Kalau Ayahnya sudah lebih bisa diajak bicara, Adek jelaskan dulu penyebabnya lalu minta maaf lagi sama Ayah, oke sayang?” tutur Kala, dan Chandra mengangguk sebagai persetujuan, “Pinternya anak Papa,”

Kini Kala dan Chandra sudah berada di rumah Ibu Kala, keduanya sibuk menyusun lego yang dibawa Chandra dari rumah. Mereka duduk di lantai ruang keluarga, dengan televisi yang menyala sebagai teman.

Ibu Kala menatap anak dan cucunya dari kejauhan, menghela napasnya sejenak lalu berjalan mendekati keduanya sembari membawa camilan di atas nampan genggamannya.

“Hai, jagoan! Uti bawakan cemilan nih,” sapa sang Nenek pada Chandra. Chandra tersenyum senang lalu berdiri dan mengambil alih nampan yang dibawa Neneknya.

“Makasih, Uti!”

“Sama-sama, makan yang banyak ya gantengnya Uti,” Nenek berikan usapan lembut pada puncak kepala Chandra. Lalu ia melirik anaknya yang masih sibuk menempelkan remahan lego, meskipun kesusahan Kala nampak menikmati kegiatannya.

“Kala…” panggil sang Ibu, mau tak mau membuat Kala menoleh dan meletakkan lego yang tengah disusunnya.

“Iya, Bu?”

“Mau ke kamar? Ibu pijitin kakinya ya, kelihatan bengkak tuh,” tentu saja itu alibi Ibunya, Kala paham betul kalau Ibunya pasti ingin berbicara dengannya, tentang keluarganya.

“Boleh, Bu. Makasih banyak ya, Ibu…” dengan begitu Kala berdiri dibantu sang Ibu, keduanya berjalan menjauhi ruang keluarga menuju kamar Kala di rumah itu, kamar lamanya saat Kala belum menikah.

Kala duduk bersandar pada headboard, dan sang Ibu di sampingnya menggenggam kedua tangannya, “Ada apa kok sampai mau menginap di sini berdua, Le?” tanya sang Ibu.

“Kala sedih, Bu… Mas berubah akhir-akhir ini,” Kala menjawab lirih, menghela napas dalam-dalam lalu melanjutkan ceritanya, “Chandra merokok, Bu dan yang tahu pihak sekolah, akhirnya Kala dihubungi dan Chandra dihukum gak boleh ke sekolah selama satu minggu,” Ibunya mendengarkan dengan seksama, tidak ingin menyela.

“Mas Gala marah banget, Chandra dimarahi tapi Kala bela, waktu itu Adek udah nangis, Bu, Kala mana tega biarin Adek nangis? Katanya Kala terlalu manjain Chandra, padahal alasan Chandra merokok karena kurang perhatian, Chandra cerita banyak sama Kala,”

“Yaudah, Bu dari situ Mas makin marah. Lebih banyak diam sekarang, jarang bicara sama Kala apalagi sama Adek. Tapi meskipun gitu Mas juga tetep perhatian sih, masih mastiin Kala makan yang baik dan minum susu, cuma Kalanya sedih karena Mas jadi lebih dingin…” Kala mengakhiri ceritanya dengan tangisnya yang kembali turun dari mata cantiknya, membuat sang Ibu merengkuhnya dengan erat, hatinya juga sakit saat melihat anak bungsunya bersedih seperti ini.

“Masmu lagi emosi itu, Le. Biarkan dulu ya, biar dia atur dulu emosinya,”

“Iya, Bu… Maaf ya Kala jadi repotin Ibu gini, Kala gak pengen lihat Mas dulu, sakit hati Kala,”

“Iya, Le kamu di sini sampai semua reda juga gapapa. Jangan banyak pikiran ya, kasihan bayi yang di perut kamu nantinya,” Kala hanya mengangguk menanggapi Ibunya.

Kala peluk erat Ibunya, menyecap hangat sang Ibu yang lama tidak dirasakannya. Dekapan sang Ibu adalah tempat ternyaman yang ada di dunia.

--

--

Asmaraloka.
Asmaraloka.

Written by Asmaraloka.

Imajinasi yang tertuang menjadi kata; menyatu membentuk sebuah cerita. Apa yang ada di sini, jangan diambil hati, ya?

No responses yet