Poor the grapes.
Pintu kamar hotel di mana Wonwoo menginap terbuka, tentu saja Mingyu yang datang. Dengan satu kantong berisi buah anggur yang dibelinya secara impulsif tadi, bahkan ia rela izin pulang lebih dulu daripada member yang lain.
“Beneran beli anggur?” tanya Wonwoo, matanya melirik ke arah kantong yang Mingyu tenteng sebelum kembali fokus dengan tontonannya.
Mingyu hanya menampilkan cengiran lucunya sebagai jawaban. Lalu ia bergerak cepat untuk mencuci tangan, kaki, dan wajahnya sebelum bergabung dengan Wonwoo di atas ranjang. Kecupan halus nan bertubi-tubi Mingyu daratkan pada permukaan wajah Wonwoo, hingga untuk yang terakhir kalinya Mingyu beri satu kecupan yang cukup lama berdiam di atas ranum kekasihnya.
“Lucu banget sih? Pengen aku gigit terus aku makan,” tangannya tak tinggal diam, kini menggamit kedua pipi Wonwoo lalu Mingyu remas pelan bulatan gembil juga halus itu.
“Gu!!!” alisnya menukik, dan Mingyu dengan cepat menjauhkan dirinya. Tawa renyah Mingyu terdengar ketika Wonwoo melempar bantal padanya. “Resek banget dibilang aku lagi nonton! Ah! Mending cuci dulu itu anggurnya.”
Lelaki bertubuh bongsor itu pun menurut. Beranjak dari atas kasur kemudian dengan cepat ia cuci anggur hijau yang dibelinya tadi. Setelah mengeringkannya dengan tisu, Mingyu kembali naik ke atas ranjang.
“Hapenya taruh dulu,” pinta Mingyu. Wonwoo lekas mematikan ponselnya lalu ia letakkan di atas nakas. “Naik sini,” Mingyu tepuk pelan satu pahanya, tangannya ia rentangkan bersiap menerima pelukan. Wonwoo terkekeh pelan sebelum merangkak kecil dan memposisikan dirinya dipangkuan sang kekasih.
Pelukan hangat itu bisa Mingyu rasakan. Dibawanya tubuh sosok yang lebih tua darinya itu bergoyang pelan ke kanan dan kiri, sesekali ia bubuhkan pula ciuman kecil pada bahu yang lebih lebar. Mingyu ingin sayang-sayang kucing kecilnya ini.
“Enak ya kalau punya tempat buat pulang begini? Capekku rasanya hilang sepenuhnya,” bisik Mingyu.
“Hmm... Jadi kapan makan anggurnya? Aku ngantuk, Gu.”
Dijauhkannya tubuh Wonwoo darinya. Lagi-lagi Mingyu tersenyum lebar memamerkan gigi rapinya. “Gak sabar mau ciuman sama aku ya?”
“Ngantuk. Aku ngantuk, Migu~” rengekannya terdengar menggemaskan di telinga Mingyu. Diambilnya satu biji anggur yang sedari tadi hanya menatap mereka bermesraan dengan bosan (kalau saja anggur-anggur itu bisa berbicara).
“Buka mulutnya aaaa?”
“Ih aku bukan bayi!”
“Bukan memang, tapi kamu bayi di mataku. Ayo aaa?” satu biji anggur itu berhasil digigit Wonwoo setengahnya meskipun rautnya terlihat kesal.
Mingyu dengan cepat memiringkan kepalanya, mendekat pada Wonwoo lalu ia gigit sisa anggur yang terlihat. Tatapan keduanya beradu, manik Mingyu terlihat begitu mengasihi dan penuh cinta. Wonwoo luluh karenanya. Dikecupnya bibir Mingyu tanpa berniat melepaskannya, yang tentu saja disambut antusias oleh sang empu. Tanpa menunggu lama, Mingyu lumat bibir Wonwoo yang kini terasa lebih manis dua kali lipat.
Kuluman lembut yang tak menuntut. Telapak hangat kekasihnya yang mengusap pipi gembilnya dengan pelan bak barang pecah belah itu membuat Wonwoo seakan dibawa melayang. Yang tanpa Wonwoo sadari, tubuhnya dibawa merebah di atas tubuh kekasihnya.
Ciuman keduanya terus berlanjut, melupakan anggur yang tergeletak sembarangan di atas ranjang.
Erangan kecil Wonwoo memenuhi ruangan ketika ia rasakan punggungnya dibelai lembut, pinggangnya diremas pelan, dan di bawah sana ada yang mendesak miliknya.
“Mmh— Gu, udah,” Wonwoo jauhkan kepalanya, memutus tautan keduanya. Mingyu berkeringat, wajahnya pun merah padam. “Sorry, babe... Tiba-tiba sange akunya.”
“Mau dibantu? Pakai tangan atau mulut?”
“Dua-duanya?”
“Sure... No sex ya, besok masih konser. Okay, big guy?”
“Deal!”
Dan ya... Acara memakan anggur digantikan dengan Wonwoo yang melahap milik kekasihnya... Poor the grapes...