Permintaan maaf.

Asmaraloka.
3 min readAug 15, 2023

--

“Wista…” bisikan lirih yang ditemani satu kecupan pada pelipis mampu membuat Wistara terusik dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum menyadari saat ini pria yang kerap ia panggil Bapak itu berada di kamarnya.

“Nyenyak sekali tidurnya. Sudah mendingan?” Marion bertanya, kini ia memposisikan dirinya duduk di pinggir ranjang sembari mengusap dahi Wistara yang tertempel plester penurun demam.

Sebelum kalian salah paham kenapa Marion bisa masuk ke dalam rumah Wistara, sini aku jelaskan. Semenjak hubungan keduanya resmi— Marion langsung melamar Wistara ngomong-ngomong. Pria bertubuh besar itu dengan gentlenya mendatangi orangtua Wistara yang ada di Solo, meminta izin untuk meminang anak mereka satu-satunya yang tentu saja disambut dengan hangat oleh kedua orangtua Wistara dan diizinkannya Marion untuk menjaga anak semata wayang mereka.

Maka sejak saat itu, Wistara membagikan kunci cadangan rumahnya. Untuk berjaga-jaga jikalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu Marion bisa dengan bebas masuk ke dalam rumah Wistara kapan saja, begitu pun Wistara yang mengetahui password apartemen milik Marion. Keduanya sudah saling menaruh percaya pada pasangan masing-masing.

“Jam berapa ini?” tanya Wistara dengan suara lirihnya, ia berusaha duduk dan Marion dengan sigap membantu tunangannya itu. Memposisikan bantal di belakang punggung Wistara agar lelakinya bisa nyaman bersandar.

“Jam enam lewat, saya langsung ke sini tadi sewaktu beres meeting terakhir,” jawab Marion.

“Bapak, mau peluk,” Wistara rentangkan tangannya dengan lemas, yang tentu saja Marion segera merengkuh lelaki tersayangnya ini.

“Masih hangat badannya… Kepalanya masih sakit?” tanya Marion. Wistara menggeleng sebagai jawaban. “Makan lagi ya? Saya bawakan sup jagung tadi.”

Marion berbicara sangat lembut pada Wistara yang masih berada di dalam dekapannya. Sesekali menciumi surai Wistara, juga ia berikan usapan pelan pada punggung ringkih itu, mencoba membuat Wistara senyaman mungkin dalam pelukannya.

“Nanti aja… Bapak tidur sini ya? Akunya mau ditemenin…” Wistara berbicara sembari mendusalkan wajahnya pada ceruk leher Marion, membuat pria itu terkekeh melihat kesayangannya begitu manja padanya.

“Iya, saya tidur di sini. Jagain kamu.”

Setelahnya hening.

Keduanya hanya berdiam dengan tubuh yang saling melekat, merasakan detak jantung masing-masing yang membuat keduanya hanyut dalam kenyamanan.

“Bapak…”

“Iya, Wista?”

“Maaf ya, tadi siang aku childish sekali. Marah karena Bapak lebih utamakan pekerjaan daripada aku,” Wistara jauhkan badannya, netranya menatap Marion dengan penyesalan yang terpancar. “Pasti Bapak bingung… Aku pasti ganggu fokusnya Bapak hari ini…”

Nada bicaranya yang begitu menyesal membuat Marion tidak tega. Diusapnya lembut punggung tangan Wistara, senyumnya tampak maklum akan aksi merajuk kekasihnya hari ini.

It’s oke, sayang. Saya sempat tidak fokus memang, kepikiran kamu sedang sakit dan sendirian tapi saya tidak bisa kabur dari meeting. But all good, saya dapat investor hari ini. Maaf ya? Saya lebih pentingkan investor daripada kamu.”

“Nggak… Bapak gak salah dan gak apa-apa kalau mau pentingkan kerjaan. Kan yang bergantung sama Bapak ada banyak. Banyak kepala keluarga, atau anak yang jadi tulang punggung di keluarganya, yang kerja sama Bapak. Gapapa… Aku ngerti. Tadi siang akunya lagi sensi makanya ngambek gak jelas ke Bapak.”

“Wista, saya sayang sekali sama kamu,” Marion peluk lagi tubuh yang lebih kecil darinya itu, berkali-kali melayangkan kecupan pada pipi juga dahi.

“Aku juga sayang Bapak. Sayang sekali.” Wistara balas pelukan itu tak kalah eratnya. “Mandi deh, Pak. Kamu bau acem.”

“Asem begini kamu senang juga peluk-peluk.”

“Hehehehehe.”

--

--

Asmaraloka.
Asmaraloka.

Written by Asmaraloka.

Imajinasi yang tertuang menjadi kata; menyatu membentuk sebuah cerita. Apa yang ada di sini, jangan diambil hati, ya?

No responses yet