Penyesalan,
Part of Keluarga Cemara
Gala pontang-panting berlarian menuju ruang operasi suaminya, ia sudah bertanya pada resepsionis di mana ruangan itu berada. Saat sudah sampai di sana, ia melihat anak dan kedua mertuanya berdiri di depan ruangan. Saat di jalan tadi juga Gala sudah mengabari orangtuanya untuk datang ke rumah sakit, hanya saja tampaknya kedua orangtuanya belum sampai di sana.
“Ayah!” Chandra berteriak memanggil, menghambur pada sang Ayah dan menangis di pelukannya.
“Papa gimana, Dek?” tanya Gala dengan panik yang kentara.
“Papa baru masuk, tadi darahnya banyak sekali, Yah. Chan takut…”
Saat sudah sampai di hadapan mertuanya, Gala melepaskan rengkuhan anaknya dan jatuh berlutut di hadapan kedua mertuanya. Meminta ampun karena tidak bisa menjaga Kala dengan baik, tangisnya pecah saat itu juga.
“Ibu, Ayah maafin Gala. Gala lalai, Gala gak bisa jagain Kala. Maaf— Gala memang gak becus jadi suami dan Ayah, maaf…”
Ayah Kala meraih bahunya, mengajak Gala untuk berdiri, “Udah, Mas ayo berdiri jangan begini,” dan Gala masih bersikukuh duduk bersimpuh dengan tangisnya.
“Maaf, Yah, maaf,”
“Iya, Mas. Udah ya, ayo kita doain aja Kala sama bayinya baik-baik aja,”
“Mas Gala sini duduk sama Ibu, kita doa ya. Adek juga doain Papa, ya?” Ibu Kala akhirnya buka suara, dan Gala menurut lalu beralih duduk di sebelah Ibu mertuanya. Kepalanya menunduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia masih menangis dengan senggukan lirih.
Puluhan menit berlalu, lampu yang ada di atas pintu ruang operasi mati, lalu tak lama seorang dokter keluar dari sana, dan segera diserbu oleh Gala, menanyakan keadaan suami dan bayinya.
Dokter itu tersenyum lalu menjelaskan, “Ayahnya sempat kritis saat tindakan karena kekurangan darah dan saturasi oksigennya menurun, tapi syukur sekarang sudah stabil namun pasien belum sadarkan diri. Karena bayinya lahir prematur di minggu ke 30, kondisinya sangat rentan namun tetap kita usahakan yang terbaik untuk bayi Anda. Doakan saja ya, Pak,”
Wajah Gala terlihat begitu tegang saat mendengarkan, harap-harap cemas pada kondisi suami dan bayinya. Kini Ia terdiam tidak sanggup bicara saat mengetahui kondisi kedua cintanya. Gala merasa begitu bersalah karena tidak ada di sana saat suaminya kesakitan, harusnya ia tahan suaminya dan menjemputnya pulang lalu berbicara dengan baik-baik, bukannya hanya mengiyakan dan acuh saja. Memang benar, penyesalan selalu datang di akhir, dan Gala begitu menyesali perbuatannya beberapa hari terakhir.
Seharusnya sedari awal ia mampu mengontrol emosinya, mau mendengarkan anak dan suaminya, seharusnya ia tidak mengacuhkan Kala, padahal suaminya dengan baik hatinya masih mempersiapkan keperluannya di pagi hari meskipun dirinya mendiamkan sang suami. Begitu bodoh rasanya.
“Dokter, Chan boleh lihat Papa?” tanya Chandra saat di sekitarnya tidak ada yang membuka suara setelah mendengar penuturan dokter.
“Boleh, Dek tapi tunggu Papa dipindahkan ke ruang rawat inap, ya,” begitu jelasnya, dan Chandra mengangguk lalu berterima kasih.
“Saya permisi ya kalau begitu, mohon ditunggu untuk pasien dipindahkan,”
“Terima kasih banyak, Dokter,” kali ini Ayah Gala yang bersuara. Dokter itu tersenyum menanggapi dan berlalu dari sana.
Kamar inap Kala terlihat penuh, ada Ayah-Ibu Kala juga Ayah-Ibu suaminya yang sedang duduk di sofa yang tersedia di sana. Juga Gala dan Chandra yang kini keduanya duduk di masing-masing sisinya.
Kala baru saja sadar paska operasi caesarnya, kulit dan bibirnya nampak begitu pucat. Punggung tangannya sedari tadi dibelai pelan oleh Gala, merapalkan maaf dengan lirih. Sedang Chandra memeluk lengan Papanya, menyandarkan kepalanya di sana, memcoba memberi afeksi pada sang Papa.
“Sayang… Maafin Mas, maaf Mas gak bisa jagain kamu, maaf Mas bikin kamu begini Kala…” perlahan air mata kembali turun dari sudut mata Gala, ia kecup berkali-kali punggung tangan yang tertanam infus dengan pelan penuh sayang.
“Bukan salah kamu, Mas…” balas Kala dengan pelan, jujur saja Kala masih sangat lemas.
“Tapi Mas ikut andil bikin kamu begini, maaf Mas malah diamin kamu beberapa hari ini… Padahal kamu pasti juga udah kepikiran keadaan Chan, tapi Mas malah egois dan mentingin ego Mas sendiri. Maaf, sayang…”
“Iya… Gapapa, udah, Mas. Kala udah baik-baik aja, baby mau ketemu kita lebih cepet, gapapa…”
“Maaf juga karena kamu belum bisa lihat baby ya, sayang… Tapi baby cantik, sama seperti kamu, cantik sekali,” ujar Gala yang kini beralih memberi usapan pada pipi suaminya.
“Gapapa, Mas, yang penting nanti Kala bisa ketemu baby…”
“Mas sayang sekali sama kamu, sayang sangat sayang, maafin kebodohan Mas ya. Mas janji itu yang pertama dan terakhir kalinya Mas memperlakukan kamu seperti itu, janji.” dan Kala memejamkan matanya saat suaminya mengecup lama pada keningnya. Hangat menjalari tubuhnya, ini perasaan yang ia rindukan beberapa hari terakhir, Kala merapal doa dalam hati, semoga kehangatan ini tidak akan pernah pudar lagi.