Mars dan Milonya.

Asmaraloka.
6 min readMay 8, 2023

--

Tepat pukul dua siang bel berdering nyaring di sekolah Mars dan Milo, menandakan waktu pembelajaran telah usai hari ini. Dua anak adam berjalan berdampingan menuju parkiran motor yang disediakan.

Tanpa perlu repot-repot pulang untuk berganti pakaian, Mars langsung membawa pacarnya pergi mencari jajanan yang ia inginkan dari kemarin, menepati janjinya agar pacar yang sering ia panggil kecil itu mau menemaninya futsal hari ini.

Satu kantong kresek penuh dengan jajanan sudah ada dalam genggaman Milo, menampilkan cengiran lebar sebagai ungkapan dirinya yang merasa senang sebab keinginannya dipenuhi oleh Mars.

"Nyengir dah dapet micin semua," terdengar sarkas memang ucapan Mars. Namun tak melunturkan senyuman Milo, malah ia balas dengan tawa kecil ucapan pacarnya itu.

"Yaudah sih, kemarin kan udah dibayar tuh pakai pap lucu? Protes aja kamu ih, wle!" Milo menyahut, menjulurkan lidahnya mengejek lelaki jangkung di hadapannya.

"Untung aku mah sayang kamu, kalau enggak udah aku jitak. Dasar bandel," tangan Mars terulur ke atas kepala Milo, memberi usakan kecil sebelum turun mencubit pipi gembul yang kini sibuk mengunyah cimol yang ia beli tadi.

Tangan Milo terangkat, menepis tangan milik Mars yang sibuk mencubiti pipinya, meskipun tidak sakit tapi kan ia hanya ingin makan dengan tenang.

"Jangan dihabisin sekarang, Mil. Nanti aku sparingnya dua jam lho."

"Iyaaa baweeel."

Keduanya melangkah ke arah di mana motor Mars terparkir, melanjutkan perjalanan ke arah gor futsal tempat biasa Mars berlatih pun bermain iseng dengan teman juga teman dari sekolah sebelah sekolah mereka.

Milo sudah duduk dengan anteng di tribun, di sampingnya masih ada Mars yang masih belum mendapatkan gilirannya untuk bermain. Tangannya digenggam, diremas kecil, sesekali Mars menggambar pola abstrak pada punggung tangannya.

"Yang, baliknya mau makan apa?"

"Kamu main belum udah mikirin makan apa nanti??"

"Laper aku. Kamu makan cirambay dimakan sendiri, aku gak dibagi."

"Lah, tadi udah aku tawarin buat beli juga enggak mau!" Wajah Milo merengut sebal, bibirnya mengerucut dengan alis yang menukik tajam.

"LUCUNYAAA, IH PACAR AKU PALING LUCU SEDUNIA," Mars memekik kencang, membuat beberapa orang yang sedang menonton menoleh ke arah mereka berdua. Kedua jemarinya sudah mencubit gemas pipi Milo, ditarik hingga melebar layaknya mochi lalu diusap dengan ibu jarinya. Berulang seperti itu.

Milo yang jengah karena pipinya pun mulai terasa sakit, ia cubit kencang perut lelaki yang masih berada dalam euforianya sendiri itu. Terdengar pekikan nyaring keluar dari bibir Mars, wajahnya kesakitan, spontan mengusap perut bekas cubitan maut Milo.

"SAKIT, MILO."

"Pipi aku juga sakit," sahut Milo acuh, kini berganti Mars yang mengerucutkan bibirnya, ia tak berani protes lebih karena salahnya juga membuat Milo kesal.

"MARS, GANTIIN GUE," teriak Sakti dari dalam lapangan, dan dijawab anggukan dari Mars.

"Main dulu, yang. Kiss dulu dah biar semangat," Mars mendekatkan wajahnya pada Milo, namun yang ia dapat bukan kecupan di pipi, melainkan toyoran di dahinya.

"Ngawur kamu, banyak orang. Sana!"

"Hehehe I love you, cil," kekehan pelan Mars mengiringi langkahnya memasuki lapangan.

Hampir 10 menit bermain Mars sudah dua kali memasukan bola pada gawang lawan, dua kali pula ia melemparkan kiss bye pada Milo yang duduk sembari mengunyah cimol di tribun sana. Yang hanya dibalas dengusan pelan oleh Milo. Jauh di lubuk hatinya ia juga merasa bangga dengan kekasihnya, hanya saja Milo malu kalau harus menunjukkan afeksinya secara terang-terangan di keramaian.

Bunyi peluit terdengar nyaring, pertanda babak pertama selesai, Mars segera berlari mendekati Milo, mengabaikan panggilan teman satu timnya.

"Mars, woy anjir nyelonong aja lo!" Dika— teman satu timnya berseru kencang, namun hanya dibalas cengiran si empunya nama.

"Recharge sama ayang dulu bentar."

"Ntar main lagi yak!" Lagi, Dika berseru, dan kali ini diacungi jempol saja oleh Mars.

Mars sampai di hadapan Milo, nafasnya tersengal, keringatnya bercucuran yang membuat Milo refleks menghapus tetesan peluh itu dengan handuk kecil yang selalu dibawa Mars. Yang diberi afeksi senyam-senyum kegirangan, senang karena diperhatikan oleh pacar kecilnya.

"Haus, Mil..." Lagi-lagi Milo dengan cekatan menyodorkan satu botol minuman ber-ion, Mars meneguknya hingga tersisa setengahnya.

"Ampun dah, pacarku perhatian banget huhu..." niatnya sih menyanjung, tapi akhirannya sedikit mengejek, membuat Milo kesal dan kembali mencubit perutnya.

"Ngeselin!" Milo lempar handuk yang tadi ia gunakan ke wajah pacarnya, sedang Mars mengaduh tapi juga tertawa melihat Milo yang kesal namun tetap terlihat lucu di matanya.

"Hahahaha maaf, Cil. Kamu lucu banget kalau diisengin, kan aku ketagihan," ucap Mars, menampilkan cengiran lebar yang terlihat lucu supaya pacarnya luluh.

"Mars, mau mie pangsit," jemari Milo menjawil pelan dada Mars yang masih berdiri di hadapannya.

"Iya, pulang nanti ya kita mam pangsit," jawab Mars yang diiringi dengan usapan pelan pada rambut Milo. Sejujurnya ia ingin mengecup puncak kepala Milo, tapi daripada terjadi tragedi di sini ia mengurungkan niatnya karena tahu kalau Milo memang kurang suka melakukan skinship berlebihan saat di luar.

"Mars! Udahan pacarannya, ayo maen lagi!" Kali ini Malik yang berseru, Malik juga teman satu timnya. Yang dijawab IYA oleh Mars.

"Cil, main dulu. Duduk manis di sini lihatin pacarmu yang keren ini."

"Mm, semangat jelek!"

"Love you?"

"SANA IH, MARS."

"Love you dulu!"

"Alay!"

"MARS CEPETAN WOY." Malik kembali berseru, membuat kedua sejoli yang sedang berdebat perkara I love you ini menoleh ke sumber suara.

"Milo~" rengekan keluar dari bibir Mars, bibirnya mencebik karena keinginannya tidak terpenuhi.

"Iya, iya, I love you, semangat gantengku."

Mars yang mendengar ungkapan dari pacarnya tertawa senang, senyumnya tidak luntur meski kini ia sedang berlali memasuki lapangan. Membuat Milo ikut tersenyum, hatinya menghangat, senang sebab membahagiakan Mars ternyata semudah itu.

Mars dan Milo sudah berada di parkiran, hari ini sparing dimenangkan tim sekolah mereka berdua, tidak dipungkiri Mars ambil andil cukup banyak dengan mencetak 5 poin hari ini. Membuat Milo kembali bangga pada kekasih jangkungnya, Mars memang jago perihal bola. Tidak hanya futsal, ia juga mengikuti basket di sekolahnya, Mars juga menjadi pemain inti di sana.

Sedang Milo hanya siswa biasa— menurutnya, ia hanya mengikuti ekstrakulikuler yang melakukan kegiatan di dalam ruangan. Milo menjadi salah satu anggota English Club di sekolahnya.

Keduanya sudah menaiki motor, dengan tangan Milo yang sudah melingkar di sekitar pinggang Mars, memasukkan tangannya pada saku jaket yang dikenakan pacarnya.

"Mau beli yang di mana, Mil?" tanya Mars, sembari melakukan motornya meninggalkan area gor futsal.

"Depan gang rumah aku aja deh, biar kamu gak capek muter-muter nanti."

"Gak capek aku, yang. Tenang aja, pacarmu ini kalau disuruh gendong kamu juga masih kuat," gurauan Mars membuat Milo menepuk pelan tangannya yang masih ada di dalam kantong jaket Mars.

"Aku yang gak mau kamu kecapekan," berbunga-bunga sudah hatinya, membuat Mars menggigit bibir bawahnya menahan senyum juga teriakan yang hanya bisa ia lontarkan dalam hati.

"Anjing— deg-degan banget gue, Cil." Mars meremat lutut kiri Milo gemas, lalu ia usap-usap pelan sebelum kembali menyetir dengan kedua tangannya.

"Apasih kamu tuh lebay," sejujurnya Milo malu— salah tingkah lebih tepatnya mendengar reaksi dari Mars.

"Ih gila dah, aku pacaran sama kamu udah setahunan masih aja gak bisa biasa waktu kamu manis manis gitu ke aku," tangan kirinya ikut masuk ke dalam kantong jaketnya, mengusak pelan punggung tangan Milo yang sedari tadi tidak mau keluar dari sana.

"Aku galak banget apa?"

"Nggak galak, yang. Cuma kan jarang aja kamunya gamblang kasih afeksi ke aku," jawab Mars, dan Milo berdehem sebagai jawaban.

"Makasih ya, Mars udah tahan sama aku selama ini..." Mars yang mendengar ucapan lirih pacarnya segera meminggirkan motornya, mematikan mesinnya dan menoleh ke belakang, menatap pacarnya yang tiba-tiba sendu.

"Hey, kok gitu ngomongnya? Tau gak, aku tuh sayang sama kamu ya apa adanya kamu, Milo. Mau kamu tingkahnya begini begitu aku tetep sayang kamu, asal kamu tau."

"Tetep aja kan..."

"Sst.. udah, gak boleh ngomong kaya gitu. Mau kamu manja, mau kamu manis manis ke aku, mau kamu judes, mau kamu jutek ke aku, akunya tetep sayang sama kamu. Gimana pun bentukan kamu, pokoknya aku sayang!"

Ucapan menggebu dari Mars membuat Milo jadi tenang, ia memang sudah agak lama memikirkan ini, ia merasa seperti kurang untuk menunjukkan sayangnya pada Mars, padahal ia sesayang itu pada laki-laki yang kini sibuk membelai pipinya lembut itu, ia sangat sayang pada Mars yang selalu menuruti permintaannya tanpa pernah menolak pun mengeluh, ia teramat sayang pada Mars yang selalu menatapnya penuh sayang dan puja.

"Udah ah jangan sedih-sedih ya, Milo angetku. Aku udah laper banget."

"MILO ANGET YOUR ASS." Pacarnya ini memang benar-benar paling pintar membuat dirinya naik darah, hilang sudah sedihnya.

"Hehehe udah bisa marah berarti udah gak sedih. Yuk let's gooo!"

Mars kembali menstater motornya, mulai bergerak pelan menyusuri jalan. Dengan Milo yang kembali memeluk erat pinggangnya. Sesekali juga Mars mengelus pelan tangan yang melingkar dengan apik di pinggangnya itu.

Petang itu, perjalanan keduanya untuk kembali ke rumah juga mampir membeli pangsit terasa menyenangkan, diiringi canda tawa dari keduanya, membawa desiran hangat yang menjalari dada dan bersemayam nyaman di sana.

Semoga bahagia selalu mengelilingi kamu dan dia, ya.

--

--

Asmaraloka.
Asmaraloka.

Written by Asmaraloka.

Imajinasi yang tertuang menjadi kata; menyatu membentuk sebuah cerita. Apa yang ada di sini, jangan diambil hati, ya?

No responses yet