happy (failed) 3rd anniversary.
Alunan-alunan musik klasik yang terdengar begitu memanjakan Warsa. Sedari ia duduk di kursi, Warsa merasa seperti menjadi manusia paling bahagia di dunia.
Meru tak hentinya memberikan perhatian padanya, menanyakan apa dirinya senang saat ini, apakah makanan yang dipesan sesuai lidahnya, atau ketika saus dari steak yang di makannya mengotori sudut bibirnya dan Meru akan mengusapnya dengan lembut. Warsa tersipu malu dibuatnya, rasanya seperti kembali saat-saat pertama mereka berkencan dulu.
Suasana di rooftop hotel saat itu sedang sepi, entah tidak sengaja atau memang Meru menyewa seluruh tempatnya, Warsa tak tahu.
“Kak, mau dansa?” ajak Meru tiba-tiba, uluran tangannya disambut begitu hangat oleh Warsa. Lalu keduanya berdiri dan mendekatkan diri.
Lengan Warsa yang mengalung apik pada leher Meru, sedang lengan Meru merengkuh pinggang kecil Warsa. Jika diperhatikan, keduanya memang seperti tercipta untuk satu sama lain, begitu pas di dalam pelukan masing-masing.
Musik yang mendayu membuat keduanya terbawa suasana. Hanya hening dengan langkah kaki yang bergerak seirama, obsidan yang saling menatap penuh cinta, pula senyum yang tercipta. Keduanya hanyut pada asmaraloka.
Warsa dan Meru kini sedang duduk berdampingan di sofa yang di sediakan oleh pihak hotel di rooftop sana. Setelah berdansa tadi, Warsa mengajak Meru untuk duduk di sofa abu itu. Saling menyandarkan kepala, dengan jemari yang bertaut, keduanya menatap pada langit yang sudah menggelap dipenuhi bintang-bintang.
“Kak…” Meru memanggil Warsa dengan pelan, maniknya menatap lekat pada bulu mata Warsa yang masih sibuk menatap bintang. Panggilannya hanya dibalas deheman pelan.
“Aku minta maaf,” Meru menjeda sejenak ucapannya. “Kita… Sudahi sampai di sini, ya?”
Degup jantung Warsa berdetak kencang, terkejut dengan ucapan Meru yang tiba-tiba. Hatinya seperti ditikam, nyeri hingga ia tak mampu berkata-kata dan hanya menampilkan ekspresi kebingungan namun sarat kesakitan.
“Aku gak bisa lagi sama kamu, Kak… Meru-mu ini brengsek, bodoh, tolol, bajingan. Kamu gak pantas dapetin orang sebrengsek aku. You deserve much better than me,” Meru tidak menyangka kalau ini semua juga menyakiti hatinya. Tangisnya meluruh bersama dengan tangisan lelaki yang ada di hadapannya.
“Gimana maksudnya… Meru, kamu gila ya?”
“Janeth… Janeth hamil anak aku, Kak…”
Bagai tersambar petir di siang hari, Warsa bergeming. Ia hanya diam termangu, tidak juga berkedip ketika mendengar pengakuan Meru.
Hancur, hati Warsa hancur. Dunianya runtuh. Tangisnya menjadi ketika otaknya sudah mencerna apa yang terjadi. Raungannya terdengar pilu ketika tubuh besar itu mendekapnya, memohon ampun kepadanya atas dosa-dosa yang ia perbuat.
“Maaf… Maaf, Kak. Maaf aku gak bisa jaga kamu, maaf aku malah patahin kamu, maaf karena aku hancurin kamu, hancurin kita, hancurin harapan kamu buat sama-sama sampai nanti… Maaf… Meru-mu ini memang bajingan.”
“Waktu itu… Waktu aku lupa jemput Kakak, dan lebih milih pergi sama temenku yang lain dan juga Janeth. Aku mabuk… Aku gak sadar udah ngelakuin itu sama Janeth. Aku emang bodoh, Kak. Aku gak bisa jaga diri aku sendiri padahal jelas-jelas hatiku di kamu. Harusnya waktu itu aku lebih milih jemput kamu… Maaf… Maaf, Kak Warsa…”
“Lepas,” setelah beberapa menit tangisannya tidak terkontrol, Warsa kini bisa mengatur napasnya, air matanya perlahan berhenti meski sesekali isakannya masih terdengar lirih.
“Maaf…”
“Lepas, Meru!” nadanya meninggi ketika Meru masih bersikeras memeluknya.
“Kak…” Meru melepaskan pelukannya, beralih meraih jemari Warsa untuk digenggam.
“Aku… aku jijik sama kamu, Meru. Aku jijik sama diri aku sendiri. Kamu pasti ingat kan? Sewaktu aku baru pulang dari rumah sakit, malamnya kita juga ngelakuin itu… Meru… otak kamu di mana? Beraninya kamu minta itu ke aku setelah kamu juga berhubungan sama perempuan lain…”
“Maaf…”
“Jangan pernah muncul di hadapan aku lagi, aku mohon dengan sangat. Terima kasih untuk tiga tahunnya, dan terima kasih untuk lukanya. Aku pamit.”
Warsa berlari dari sana, meninggalkan Meru yang termenung meratapi kesalahannya.