foto adalah pemanis.

Guardian Puppy.

Asmaraloka.
11 min readDec 16, 2023

--

Fantasy; hybrid, Romance, Hurt-Comfort, Reincarnation.

trigger warning: implicit car accident scene, mention of blood, mention of death.

i. Sedikit tentang Wonwoo, pertemuan pertama, dan hidup bersama.

Hidupnya yang sebatang kara tak serta-merta membuat Wonwoo putus asa. Sedari kecil, Wonwoo tak pernah tahu siapa dan bagaimana kedua orangtuanya. Ia tumbuh dan besar di panti asuhan hingga menginjak umurnya yang ke tujuh belas. Karena merasa ia sudah bisa bertanggungjawab atas dirinya sendiri, Wonwoo pun meminta kepada sang Ibu untuk melanjutkan jenjang pendidikannya di luar, awalnya memang tidak mudah, namun Wonwoo pantang menyerah dan pada akhirnya sang Ibu mengizinkan.

Jarak tempuh kota yang ditinggali Wonwoo kini hanya dua jam untuk ke panti asuhan yang menjadi rumahnya sejak kecil. Wonwoo pun rutin berkunjung, paling tidak satu kali dalam satu bulan Wonwoo sempatkan mendatangi Ibu juga adik-adiknya. Masih pula ia bertukar kabar melalui telepon atau pesan singkat, Wonwoo tentu tak akan pernah memutus hubungan mereka, Wonwoo sudah anggap semua penghuni panti adalah keluarga. Apa lagi sang Ibu, Wonwoo tak ingin jadi durhaka pada wanita setengah baya yang merawat dan menjaganya dari ia bayi.

Wonwoo selesai dengan shiftnya hari ini. Benar, untuk menambah uang jajan dan memenuhi keperluan kuliah, Wonwoo bekerja part time di sebuah cafe. Meski ia mendapatkan beasiswa dan diberi uang bulanan tetap dari panti, Wonwoo rasa tak ada salahnya untuk mulai tidak bergantung pada uang dari panti. Uang yang menjadi jatahnya itu bisa digunakan adik-adiknya yang lain, begitu pikirnya.

Jadi disinilah Wonwoo sekarang. Sedang membersihkan beberapa perabotan sebelum mematikan saklar lalu berjalan keluar menggembok cafe.

“Kak Won, duluan, ya!” ucap rekan kerja Wonwoo, yang kerap disapa Kwan olehnya.

Wonwoo mengangguk dengan seulas senyum, “Hati-hati ya, Kwan,” setelah mendapat acungan jempol dari lawan bicaranya, bisa Wonwoo lihat Seungkwan berlari kecil menghampiri kekasihnya yang tengah menunggu di atas motor.

Setelah memastikan cafe terkunci dengan aman, Wonwoo mulai berjalan menuju tempat tinggalnya. Tak begitu jauh, hanya lima belas menit berjalan kaki. Senandung kecil Wonwoo menemani langkahnya menyusuri jalanan malam yang tak begitu ramai. Sesekali Wonwoo sapa dengan senyum ketika melihat para pedagang di trotoar. Mungkin terlihat aneh bagi orang lain, tapi Wonwoo memang mengenal mereka, tak jarang juga Wonwoo membeli dagangannya.

“Mana ya kuncinya …” Wonwoo bergumam lirih sembari mengobrak-abrik isi tasnya, mencari kunci pagar kos-kosan yang ia tempati.

Auu! Woof! Woof!

Lantas Wonwoo menghentikan pencariannya saat mendengar gonggongan anjing yang tak terlalu keras itu. Maniknya melebar saat melihat Pomeranian berbulu coklat tengah menatapnya antusias. Anjing kecil itu mengibaskan ekornya, bergerak memutar mencari perhatian. Wonwoo yang luluh pun merendahkan tubuhnya, berjongkok lalu ia usap lembut kepala si anjing kecil.

“Kok di sini? Majikanmu mana?” lagi, yang Wonwoo dengar hanya gonggongan pelan. Tentu saja … mana mungkin anjing bisa berbicara, 'kan?

Wonwoo melihat ke sekeliling, dan tak ada orang selain dirinya. Bisa Wonwoo asumsikan kalau anak anjing ini tengah tersesat. Setelah menemukan kunci pagar, Wonwoo bawa anjing kecil itu dalam gendongannya. Karena sudah malam, ia tak tega meninggalkan makhluk berbulu itu sendirian. Maka Wonwoo putuskan untuk membawanya masuk ke kamar kosnya, membagi sedikit daging yang ia punya pada sosok kecil yang kini duduk manis di atas ranjang.

“Habiskan ya makanannya, besok kita cari majikanmu. Oke?”

***

Sudah dua minggu pula Wonwoo mencari-cari keberadaan pemilik Pomeranian kecil ini. Setiap ia selesai kuliah dan sebelum memasuki shiftnya, Wonwoo sempatkan berkeliling di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan Wonwoo buatkan poster yang ia sebar melalui sosial media. Namun nihil, tak ada satupun yang menghubunginya. Wonwoo mulai putus asa.

Tidak, Wonwoo tidak keberatan akan kehadiran makhluk kecil itu. Ia hanya berpikir jika sang pemilik asli kebingungan mencari hewan peliharaannya.

Namanya Mingu, ngomong-ngomong. Wonwoo mengetahuinya dari kalung yang dipakai, tapi tak ada secuil pun petunjuk di mana Wonwoo bisa menghubungi pemiliknya.

Wonwoo raih Mingu lalu dipangkunya. Jemarinya itu bergerak mengusap perut Mingu, menggelitik dan dibalas gerungan lucu dari sang empu. “Mingu, kalau mulai sekarang sama aku terus mau? Aku janji bakal jagain kamu dengan baik,” seolah mengerti, Mingu menggonggong menyahut, lidah kecilnya itu menjilat punggung tangan Wonwoo antusias layaknya pernyataan itu lah yang ia tunggu-tunggu.

“Baik-baik ya, Gu waktu sama aku. Kalau ditinggal kuliah dan kerja jangan nakal ya?”

Woof!

Wonwoo tertawa karenanya. Pintar sekali Mingu kecilnya ini.

Tanpa Wonwoo sadari, ada binar cerah di balik mata bulat Mingu. Batin Mingu senang melihat Wonwoo banyak tertawa dan tersenyum ketika bersamanya. Ia pun merapalkan janji pada Wonwoo dan juga sang Penguasa di atas sana, “With all my heart, with every inch of my soul, with every breath I take, I promise to take care of you until my last breath.” Mingu kibaskan ekornya saat selesai dengan janjinya.

Sore itu akhirnya Wonwoo habiskan bersama Mingu dengan berjalan-jalan di sekitar taman, bermain dengan bola kecil yang Wonwoo beli untuk Mingu, dan berlarian ke sana kemari tanpa lelah hingga petang tiba.

ii. Insiden dan kebenaran.

Shift Wonwoo hari ini berakhir pada pukul empat sore. Begitu ia membuka pintu samping cafe untuk pulang, Wonwoo dikejutkan dengan gonggongan Mingu. Terburu ia hampiri anjing kecil yang sudah menemaninya sejak beberapa bulan lalu.

“Mingu kok di sini? Kok bisa ke sini? Aduh– untung kamu gak kenapa-kenapa ...” nada panik yang kentara itu membuat si puppy memiringkan kepalanya bingung. Karena tanpa Wonwoo tahu, Mingu sedari awal hingga hari ini pun selalu mengikuti Wonwoo kemana saja lelaki itu pergi. Entah Wonwoo yang tidak peka atau Mingu menggunakan sihirnya.

Woof! Woof!

Mingu menggonggong pelan sebelum menggigit tali harnessnya lalu ia sodorkan pada Wonwoo, seolah ingin Wonwoo yang memegang kendali atas dirinya selayaknya anjing dan pemilik pada umumnya.

Kok udah pakai harness? Kayaknya tadi pagi enggak aku pakaikan …” dahi Wonwoo mengerut bingung. Kalimatnya itu hanya ia lontarkan dalam hati.

Menepis pikirannya sendiri, Wonwoo memilih mulai berjalan mengikuti Mingu yang terlihat antusias sore ini. Pomeranian berwarna coklat itu nampak senang, hidung kecilnya sesekali mengendus sekitar, kaki mungilnya lompat-lompat di atas dedaunan yang berkumpul di pinggir trotoar. Membuat Wonwoo tak enak pada penyapu jalanan yang tengah beristirahat di salah satu kursi yang tersedia.

“Mingu, jangan di berantakin daunnya… Kasihan bapaknya udah beresin itu,” dengan cepat Wonwoo berjongkok kembali mengumpulkan beberapa daun yang berserakan. Mingu yang mengerti pun akhirnya berhenti, mengerung lesu seperti sedang meminta maaf, duduk terdiam melihat Wonwoo yang masih sibuk mengambil dedaunan.

Wonwoo yang terlalu fokus sampai tak sadar akan sekitar, ia berada di pinggir jalan yang sedang ramai kala itu. Hingga bisa ia rasakan tubuhnya terpental, bunyi bedebam yang nyaring juga teriakan orang-orang bersahutan.

Degup jantungnya berpacu ketika ia membuka mata dan melihat pemandangan di sana. Riuh warga yang memanggil ambulans menyadarkan Wonwoo. Kaku. Tubuh Wonwoo kaku. Banyak genangan merah. Wonwoo gemetar namun ia paksa tubuhnya untuk menghampiri lelaki malang yang tergeletak bersimbah darah. Wonwoo asumsikan lelaki itulah yang menolongnya.

Sesak rasanya, dada Wonwoo nyeri melihatnya. Tangisnya pecah, meraung sarat akan sakit ketika Wonwoo melihat kalung yang biasa dikenakan Mingu melingkar apik di pergelangan tangan lelaki yang tergeletak tak berdaya itu.

Hingga ambulans datang dan keduanya sudah berada di dalam mobil, genggamannya pada Mingu tak sekalipun Wonwoo lepaskan. Bibirnya kerap memanggil nama Mingu, disertai permintaan maaf penuh penyesalan yang Wonwoo harap bisa membuat Mingu tersadar meski mustahil.

***

Hari berlalu begitu cepat. Sudah tiga hari Wonwoo menunggu Mingu yang masih tak sadarkan diri. Tiga hari pula Wonwoo meliburkan diri dari kegiatannya demi menemani Mingu.

Bersyukur pelaku penabrakan itu sudah ditangani pihak berwajib. Wonwoo sempat memaki ketika diminta jadi saksi. Sebab sang pelaku ternyata sedang tidak sadar dan dibawah pengaruh alkohol saat kejadian naas tempo hari.

“Mingu … kapan bangun? Udah tiga hari tidur terus,” Wonwoo menghela napas dalam. Jari lentiknya bermain di atas punggung tangan Mingu. “Aku gak nyangka kamu ternyata sebesar ini? Padahal sewaktu jadi puppy kamu kecil sekali …”

Berbulan-bulan hidup berdua bersama Mingu tentu saja membuat dirinya dilanda rindu. Meski selama ini yang menemaninya adalah wujud seekor anjing lucu, Wonwoo rasa ia jadi bergantung pada sosok kecil itu.

Manik Wonwoo membelalak ketika ia lihat pupil Mingu bergerak di balik kelopaknya. Cepat-cepat ia tekan tombol untuk memanggil para tenaga medis. Tangis Wonwoo pun pecah saat netra Mingu terbuka sempurna.

Dokter datang menghampiri, memeriksa Mingu dengan teliti. Ada senyum yang terpatri. Ada pula kabar baik yang dokter beri.

Wonwoo kembali mendekati Mingu yang tampak linglung. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat Mingu mengerung lucu, “Kenapa gitu? Kamu lagi jadi manusia kan, Gu?”

“Maaf kebiasaan …”

Tawa Wonwoo meledak dibuatnya. Mingu versi manusia ternyata tak kalah lucunya dengan versi Mingu si anak anjing, pikirnya.

Wonwoo tarik kursinya mendekati Mingu lalu duduk di sana. Ia usap pelan dahi Mingu yang basah akan keringat. “Aku cari tau sedikit tentang hybrid, pernah dengar juga jadi aku gak gitu heran waktu tau kamu itu Mingu si puppy.”

“Hmm … tapi aku spesial.”

“Spesial?”

Mingu mengerang pelan saat ia coba mendudukkan dirinya sendiri. Bekas luka operasi di belakang kepalanya cukup nyeri ternyata. Wonwoo pun dengan sigap membantu Mingu, meletakkan bantal di punggung untuk digunakan lelaki hybrid itu sebagai sandaran.

“Aku diutus oleh sang Penguasa untuk jaga kamu, Wonwoo. Untuk jadi teman hidup kamu sampai kamu menemukan pendamping nanti.” Wonwoo mengangguk mengerti.

“Pantes dokter juga heran, kenapa kamu bisa secepat ini sadar? Padahal kamu ada cedera serius di kepala.”

“Aku bisa sembuhkan diriku sendiri, Wonwoo.”

Obrolan keduanya terus menyambung, Wonwoo yang penuh rasa penasaran itu menanyakan apa saja yang ingin ia ketahui, dan Mingu menjawabnya tanpa terkecuali.

***

Satu minggu dirawat di rumah sakit, kini Mingyu sudah diperbolehkan pulang. Wonwoo tahu nama asli Mingyu, sebab saat Wonwoo memanggil Mingyu dengan ‘Mingu’ secara langsung, Mingyu meringis geli dan berkata, “Wonwoo, panggil aku Mingyu. Nama asliku Mingyu. Aku pakai nama Mingu supaya terlihat lucu untuk puppy …”

Lagi-lagi Wonwoo tertawa keras mendengar kejujuran Mingyu saat itu. Ia jahili sedikit dengan terus memanggil nama Mingyu dengan ‘Mingu’ hingga si manusia hybrid merajuk, barulah Wonwoo memanggil namanya dengan benar.

“Ini bener gak perlu kursi roda lagi?”

“Gak perlu, Wonwoo …” Mingyu yang tengah dipapah Wonwoo jadi merasa tak enak, ia berhenti sejenak dan otomatis Wonwoo ikut menghentikan langkahnya, “Aku berat ya? Maaf ya, Wonwoo kalau aku berat gak papa pakai kursi roda aja.”

Wonwoo menggeleng menanggapi, “Enggak, aku khawatir aja kamu nanti kecapekan, Mingyu.”

Mata Mingyu terpejam sejenak, batinnya merapalkan mantra agar tubuhnya bisa lebih cepat bugar seperti sediakala. Ia tak ingin membebani Wonwoo lebih lama. Berhasil. Tubuhnya terasa lebih ringan, Mingyu bisa berdiri tegap di atas dua kakinya sendiri. Lalu tangannya ia ulurkan, “Ayo pulang?” Wonwoo bingung, melihat Mingyu yang tiba-tiba seperti tak terlihat lemas sama sekali seperti beberapa menit lalu.

“Wow … Mingyu keren.”

Kali ini Mingyu yang terkekeh. Lucu, ekspresi yang Wonwoo tampilkan terlampau gemas di mata Mingyu hingga tanpa sadar tangannya mengusap pelan pada surai kelam Wonwoo.

iii. Semi di musim panas.

“Min!” seruan juga lambaian tangan itu membuat Mingyu yang ada di seberang jalan sumringah.

Mingyu isyaratkan pada Wonwoo agar tetap berada di sana, menunggu dirinya menyeberang bersama kerumunan. Wonwoo mengangguk paham. Senyum tak luntur dari bibirnya. Pasalnya, hari ini keduanya akan mengunjungi cat cafe yang dijanjikan Mingyu.

Mereka benar-benar hidup berdampingan dengan rukun. Mingyu pun masih sering berubah menjadi puppy saat Wonwoo menginginkannya, atau saat dirinya ikut Wonwoo mendatangi panti asuhan. Karena tidak mungkin Mingyu menampakkan wujud manusianya saat pergi ke sana, Wonwoo terlalu khawatir dengan reaksi sang Ibu. Padahal, bisa saja kan Wonwoo mengklaim Mingyu sebagai teman? Entah lah, Wonwoo hanya tidak ingin Mingyu diberi pertanyaan macam-macam dari Ibunya.

“Kayaknya tadi pagi berangkat kuliah bajunya bukan ini deh, Woo?” bukannya menyapa atau apa, Mingyu malah mengomentari pakaian yang dikenakan Wonwoo sekarang.

“Aku bawa baju ganti … Masa iya pergi jalan tapi aku bau keringat? Nggak mau, nanti kucingnya gak mau dekat-dekat aku, Min.”

“Cocok di kamu, kelihatan manis.”

Wonwoo bersemu malu.

Keduanya tiba di cafe yang Mingyu temukan minggu lalu. Denting lonceng berbunyi kala keduanya memasuki area cafe. Wonwoo dan Mingyu disambut beberapa kucing yang ada di sana. Wonwoo berjongkok, mengelus dagu kucing yang ada satu-persatu.

“Pesan dulu, Woo. Aku pesankan ya? Soft cookies dan milkshake cokelat, kan?” Mingyu yang berdiri di sampingnya berinisiatif, karena ia tahu Wonwoo jika bertemu makhluk berbulu bisa tiba-tiba lupa akan sekelilingnya.

“Iya, tolong ya, Min. Terima kasih!”

Spot di pojok dekat jendela menjadi pilihan. Duduknya lesehan dengan bantalan lucu berbentuk bunga, dan sebuah coffee table untuk meletakkan pesanan mereka.

Dua jam berlalu tanpa terasa, Wonwoo bahkan sudah memesan makanannya yang kedua. Kali ini cinnamon rolls yang ia cicipi. Sedangkan di pangkuannya kini ada seekor kucing persia berwarna putih, terlihat nyaman tertidur di atas kaki Wonwoo yang terlipat.

“Sstt … Min?” Wonwoo berbisik. Mingyu yang ada di depannya mengernyit, “Hmm?”

“Kaki aku kesemutan huhu, gimana ya, Min? Mpusnya nyaman banget …” wajah tersiksa Wonwoo itu membuat Mingyu kasihan, ia geser duduknya dan dengan segera mengangkat hewan berbulu putih itu. Ajaibnya, si kucing tidak terusik sama sekali pasca berpindah ke pangkuan Mingyu.

“Masih kesemutan kakinya?” tanya Mingyu. Wonwoo menggeleng pelan, “Udah hilang, makasih ya,” begitu jawabnya.

Wonwoo beralih melahap cinnamon rollsnya, memotongnya terlebih dahulu menjadi beberapa bagian kecil lalu ia makan satu-persatu potongannya. Mingyu hanya diam memperhatikan Wonwoo yang terlihat menikmati makanannya dan itu cukup membuat Mingyu lega. Tiap saat Wonwoo merekahkan bibirnya senang, itu tanda jika Mingyu mengemban tugasnya dengan benar, dan Mingyu bangga akan dirinya.

“Min, ma—u …?”

“Manis, ya ternyata.”

Wonwoo termangu, tak berkedip saat melihat Mingyu dengan entengnya menjilat saus putih dari kue yang telah berpindah dari sudut bibir Wonwoo ke ibu jari miliknya. Lelaki itu menghisap jempolnya seolah itu hal yang lumrah.

Panas menjalari wajah Wonwoo, pipinya memerah padam hingga telinga. Ketika sadar, ia dengan segera berbalik memunggungi Mingyu. Menggenggam kedua pipinya sendiri, menepuknya pelan dan merutuk dalam hati.

Entah, yang pasti kini jantung Wonwoo berdegup lebih cepat. Ada desiran halus yang mengalir di darahnya, seolah tersengat, namun mampu menciptakan banyak letupan-letupan menyenangkan.

Aneh. Wonwoo ingin merasakan percikannya lagi.

“Woo?” panggil Mingyu. Wonwoo tak menjawab, ia memilih menggeser piring kecil berisi kue yang dimakannya tadi pada Mingyu tanpa berbalik dan hanya melirik, “Habisin, aku kenyang,” tidak, Wonwoo tidak benar-benar kenyang. Ia hanya malu jika Mingyu melihat wajahnya yang memerah semu.

Mingyu terkekeh sembari mengangguk lalu bergumam, “Oh …” tanpa ingin bertanya lebih.

iv. Dan gugur di musim semi (juga sebuah harapan).

Ada tangis menggema di dalam ruangan.

Ada sesak yang menghantam dada.

Ada sosok yang hanya berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa.

Dan ada pula Wonwoo yang kini tengah bersimpuh di hadapan Mingyu. Sosok yang hanya berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa. Air mata itu terus berderai bebas dari kedua bola matanya, napasnya tersengal, isakannya terdengar pilu namun Mingyu masih diam termangu.

“Nggak mau, Min … Aku maunya sama kamu, aku gak mau sama orang lain—” suara protes Wonwoo terdengar lirih di sela tangisannya. Jarinya meremas erat dadanya, terlihat begitu putus asa.

“Aku bukan manusia seutuhnya, Woo. Aku bukan orang yang ditakdirkan untuk kamu, untuk jadi pasanganmu, itu bukan aku, Woo …”

Melunak. Mingyu turut meluruh, bahu ringkih milik Wonwoo ia rengkuh.

“Kamu bahkan sudah ketemu orangnya. Aku bisa apa, Woo? Aku cuma penjaga kamu, gak lebih. Kalau kamu sudah bertemu pasanganmu, yang sudah dituliskan untuk kamu, berarti tugasku sudah selesai sampai di sini. Benang merah antara kamu dan dia gak bisa seenaknya diputus seperti katamu tadi.”

“Tapi aku maunya kamu, Min …”

“Aku temani kamu sampai hati kamu bisa terima dia sepenuhnya, ya?”

Wonwoo kembali menolak, menggeleng pelan berkali-kali.

“Wonwoo sayang …”

Lagi, Wonwoo menanggapi dengan gelengan kepala dan tangis yang tak juga berhenti.

“Konsekuensi dari aku yang melanggar tugas, aku bisa dihukum mati tanpa reinkarnasi, Woo. Bahkan aku sudah meminta pada sang Penguasa untuk menggariskan aku dan kamu di kehidupan yang akan datang. Kamu … kamu rela aku mati tanpa reinkarnasi dan nggak akan ada kita di masa depan?”

Tangisnya mereda, ada binar penuh harap di maniknya yang basah. “Kamu nggak bohong kan, Min?”

“Nggak, Woo. Karena aku juga mau kamu. Di kehidupan selanjutnya, aku pastikan cari kamu lebih cepat dari yang seharusnya. Percaya aku, ya?”

Wonwoo mengangguk, mencuri satu kecupan di pipi Mingyu, lalu ia berkata, “Aku percaya kamu, Min.”

v. Halaman terakhir,

24 Desember 24XX

Di malam natal tahun lalu, aku bertemu dengan Mingyu di stasiun kereta. Aku dengan setelan kemeja berwarna biru cerah, sedangkan Mingyu dengan jaket denimnya, mencangklong tas gitar kebanggaannya.

Ada debar menyenangkan saat tatap mata kami bertemu untuk yang pertama kali (sekali lagi).

Sejak saat itu pula, aku dan Mingyu terus menerus bertemu di sudut peron stasiun. Membicarakan tentang hari itu secara singkat sembari menunggu kereta tiba.

Lalu di hari valentine tahun ini, Mingyu menyatakan cintanya padaku. Berbekal buket bunga berisi lily putih dikombinasikan dengan mawar yang memiliki warna senada, aku mengatakan “Iya” tanpa tedeng aling-aling.

Dan tepat pada hari ulang tahunku, tujuh belas Juli kemarin. Mingyu melamarku, membawa edelweiss dan juga cincin berlian sembari bersimpuh di hadapanku, menjadikan aku manusia paling bahagia di alam semesta malam itu.

Aku yang sempat skeptis akan ucapan Mingyu di masa lalu, namun semua itu berhasil ditepis oleh takdir yang telah diramu.

Sebab beratus tahun kemudian, aku dan Mingyu akhirnya kembali dipertemukan. Dengan benang merah kasat mata yang saling mengikat. Kami mengemban cinta yang sama, menua bersama hingga ajal tiba.

JWW.

--

--

Asmaraloka.
Asmaraloka.

Written by Asmaraloka.

Imajinasi yang tertuang menjadi kata; menyatu membentuk sebuah cerita. Apa yang ada di sini, jangan diambil hati, ya?

No responses yet