Bandung dan kamu di malam itu.
tags; explicit sexual content, unprotected sex, vanilla, also have some dirty talk. read at your own risk.
Seharian ke sana kemari bersama yang terkasih itu memang membahagiakan sekali ya? Sejak semalam, Mingyu—yang acap kali dipanggil Gatot oleh teman-temannya itu selalu menuruti keinginanku. Terlebih semalam sewaktu dia mendengarkan cerita tentang Noyiw; kucingku hingga pukul dua dini hari. Kasihan sebenarnya karena dia pasti lelah seharian kuliah, lalu sorenya kita berangkat ke Bandung dan dia menyetir sendiri. Cuma ya gimana— energiku belum habis dan masih ingin banyak ngobrol sama dia. Maaf ya, Giyu. :(
Ngomong-ngomong, aku juga udah nawarin kok buat gantian nyetir sewaktu mau berangkat, tapi dia dengan entengnya bilang, “Nggak ya, sayang. Kamu capek nanti, aku aja kan aku kuat sering ke gym.” iya, gak ada korelasinya tapi ya sudah, suka-suka dia. Jadi waktu di perjalanan yang aku lakuin cuma sesekali suapin dia cemilan dan minum, gave him some peck on his cheek sebagai moral support hehe. Dia cuma cengar-cengir aja selama nyetir dan gak ngeluh sama sekali, memang keren ya pacarku ini? Hahaha.
Kembali ke hari ini. Last stop kita di Braga, cari makan dan cemilan sebelum balik ke hotel. Dan tepat pukul sembilan malam, kita selesai dengan acara mengisi perut lalu bergegas kembali ke penginapan untuk istirahat. Capek kalau boleh jujur, kakiku rasanya pegal dan si Gatot ini dengan perhatiannya mau pijitin kaki aku. Baik sekali kan? Jadi setelah ini aku akan beri dia hadiah atas kebaikannya hari ini!
“Masih pegel kakinya?” tanyanya. Tangannya masih senantiasa memijat betisku bergantian. Aku hanya mengangguk untuk memberinya jawaban.
“Pakai kupluk terus kenapa sih? Kan aku bilang kamu ganteng rambutnya pendek gitu...” giliran aku yang bertanya. Aku gak bohong sewaktu aku bilang Gatot ini tampan dengan potongan rambutnya yang baru itu.
“Aneh aja, Yang. Biasanya kan agak panjang, sekarang lebih semeriwing gitu pas kena angin. Takut masuk angin aku."
Aku cuma hela napas waktu dengar jawabannya. Aneh, tipikal Gatot sekali.
“Udah, Giyu. Gantian sini aku pijitin kamunya." Kutarik kakiku dari hadapannya. Si bongsor di depanku ini senyum sumringah dan malah memposisikan kepalanya di atas pahaku.
“Gak usah, capekku hilang lihat kamu seneng pergi sama aku.” Halah.
“Mau cium gak?” aku menawari, ini yang kumaksud sebagai reward tadi.
“Pake nanya!” semangat sekali ya, si Gatot ini. Tapi lucu, mirip puppy.
Aku yang lebih dulu mendaratkan ciuman ke bibirnya. Melumatnya lembut sementara Gatot hanya diam menikmati sembari mengusap pelan pipiku. Aku salah tingkah, dan aku akui itu.
Lama-lama ciuman kami semakin intens, Gatot membawa tubuhnya bangun dan beralih menyandarkanku pada headboard. Mengunciku diantara lengannya, terus menerus memborbardir rongga mulutku, menautkan lidahnya dengan milikku dan sesekali ia sesap. Menciptakan lenguhan tertahan dariku.
“Nu... Mas boleh lanjutin gak?”
Tuturnya begitu lembut, membuatku terhipnotis dan suka rela menjawab “Iya,” atas pertanyaannya.
Kali ini Gatot membubuhkan ciumannya di atas kulit leherku, menggigit kecil dan menyesap sesekali. “Giyu... Jangan dimerahin di situ—”
“Panggil Mas.”
Ah... Baik, Mas Mingyu. Kinky juga ternyata. Karena sebelum ini, di malam waktu aku menariknya dari Bar yang dia datangi, kita melakukannya tanpa banyak kata. Hanya ada dia yang bergerak lembut di atasku, menenangkan aku melalui sentuhannya malam itu.
“Iya, Mas Mingyu...”
Puas dengan jawabanku, Mingyu kembali menjamah kulitku. Kali ini lebih turun ke area collarbone, lidahnya itu bermain-main di sana cukup lama. Menyusuri tiap inci tulang menonjol yang terbalut kulit milikku, dan beberapa kali juga menjejakkan kecupan basah di sana.
“Cantik, cuma punya Mas.” Siapa yang tidak tersipu jika begitu?
“Lepas ya bajunya?” lagi dia bertanya meminta persetujuanku.
“I'm all yours, Mas Mingyu. Gak perlu minta izin, lakuin apa yang kamu pengen asal jangan ninggalin bekas di area yang gampang dilihat, okay?” setelah menyelesaikan ucapanku, ku lihat si dia tersenyum lebar dan kembali menyatukan ranum kami. Ciumannya terasa lebih bersemangat dari sebelumnya, gemas.
Menit berlalu dan kini tak ada sehelai benang pun yang menempel pada tubuhku. Si dia juga, total naked di atasku dan masih menjarah apa yang bisa ia jarah. Banyak pula bercak merah membiru di sepanjang area depanku, yang menciptakannya? Tentu saja Mingyu. Katanya, lenguh yang menguar ketika ia melukiskan merah di atas tubuhku itu candu untuk didengar. Semakin vokal lah aku agar Mingyu juga senang.
Bisa kurasakan satu dua jarinya membelah milikku di bawah sana, melesak masuk setelah ia titahkan aku untuk mengulum dua jarinya itu hingga basah total. “Anghh Mas—” napasku tertahan saat lelaki di atasku ini berhasil merangsek titik terjauh yang kumiliki. Jarinya bergerak dengan pelan. Pelan namun begitu dalam dan cukup membuat aku kelimpungan.
“Udah... Mau kamu, mau kamu yang didalamku, Mas...” kubuat semendayu mungkin nada bicaraku, agar ia luluh dan lekas menyatukan miliknya dengan milikku. Bilang aku tidak sabaran, karena memang. Si dia ini terlalu lembut, sedang aku lebih menyukai diperlakukan dengan kasar dan terburu.
“Sebentar, biar kamu gak sakit, sayang.” ugh, very thoughtful of him. Nggak, aku gak berniat protes kok. Barangkali Mingyu lebih menyukai aktivitas yang intim penuh kehati-hatian. Siapa aku berani merusak rencananya itu? Sebab malam ini adalah miliknya, aku seutuhnya miliknya.
“Kalau sakitnya banget banget, lampiasin ke Mas, ya?” rupanya dia kini sedang mempersiapkan miliknya di bawah sana. Bergesekan pelan dengan titik kecil berkerut milikku.
Aku mengangguk, lalu mengalungkan lenganku pada tubuhnya. Menggenggam sejumput surainya yang pendek itu ketika perlahan bisa aku rasakan miliknya mulai menerobos lubangku. Pedih dan panas namun aku menyukai sensasinya. Aku kulum sendiri bibir bawahku, menahan sakit yang menjalari sekujur badanku. Dan si dia ini begitu peka, “Gigit bibir Mas, Nu,” katanya, sebelum ia satukan ranum kami. Ia sesap bibir atasku dan aku menyesap bibir bawahnya.
Sentakannya di bawah sana yang terlampau kencang membuatku memekik tertahan dan tak sengaja menggigit ranumnya betulan. Hhh... Teramat perih kalau boleh kubilang area selatanku.
“Mas sorry, bibirmu berdarah...”
“Gapapa, gak sakit. Nu pasti sakit banget ya rasanya...?” lelaki ini terbuat dari apa sih? Jelas-jelas aku sempat melihat wajahnya mengernyit menahan sakit saat menyesap luka di bibirnya itu.
“No. Gerak, Mas.”
Sesuai permintaanku, Mingyu mulai bergerak. Begitu pelan seolah takut menyakiti aku, ini lebih menyiksa jujur saja. Bisa tidak dia mendorong miliknya itu dengan cepat dan kasar? Argh! Tentu kalimat itu tidak aku utarakan dengan lantang, cukup meraung di dalam hati lalu frustasi sendiri.
Manik matanya menatapku penuh sayang. Telapak tangannya yang besar itu menggenggam lembut pipiku. Mengusapnya pelan dengan ibu jari seiring hujamannya pada senggamaku di bawah sana yang mulai meningkat kecepatannya. Kali ini ia mendorong miliknya tak bersisa, hingga tenggelam seluruhnya dalam balutan hangatku.
“Ahh... Mas sayang—”
Ada senyum di sudut bibirnya saat aku memanggilnya begitu. Jadi, aku ulang lagi dan lagi panggilan Mas sayang itu agar lebih lebar lagi senyumnya. Dan berhasil. Ia menggeram di atasku, mempercepat lagi laju kepunyaannya di dalamku. Aku menggerung, meskipun ini bukan preferensi seks yang kumiliki, aku tetap merasa puas ketika melihatnya berbungah saat menyetubuhiku.
“Nu, Mas mhh– mau sampai.”
Peluhnya yang membasahi dahi itu membuatnya terlihat lebih panas nan menggairahkan. Sebuah ide terlintas di otakku— “Mas, mau Nu enakin gak? Nu di atas, please?” Cukup terkejut lelaki yang tengah mengungkungku ini ketika mendengar ucapanku, namun dengan cepat ia membalikkan posisi kami. Tanpa melepas tautan kini aku beralih terduduk di pangkuannya. Miliknya itu melesak semakin dalam, aku melenguh cukup panjang saat merasakan ujung kepunyaannya menyentuh titik lemahku.
“Percaya Nu, ya. I'll bring you to see what heaven is like,” kuberi kecupan pada ujung bibirnya sebelum mulai menggerakkan pinggulku di bawah sana.
Aku remat pelan bahunya yang aku jadikan tumpuan. Mengunci matanya agar tenggelam dan hanya terfokus kepadaku yang tengah sibuk menungganginya. Bising dari ranjang berderit juga desah yang bersahutan itu menghiasi kamar hotel ini.
Sebut aku gila namun aku tak tahan dengan kelembutannya. Badanku meliuk, bergerak tak beraturan. Maju-mundur, naik-turun untuk mencari kenikmatan. Wajah yang terpampang jelas di hadapanku ini menunjukkan kepuasan. Apa kubilang, kan? Jumawa sedikit karena nyatanya aku mampu membuat kekasihku ini keenakan.
Ku raih kepala Mingyu, mendekatkannya ke pada salah satu titik cokelat di dadaku. Menatapnya seakan memohon agar ia mau mengulum noktah yang menegang itu. “Mas, ahh– cium, cium nipple Nu nnhh–”
Mulut hangatnya itu bergerak cepat begitu aku menyelesaikan ucapanku. Lidahnya bermain di dalam sana, menyapu seluruhnya. Membuatku gemetar tak karuan. Tanganku beralih meremat rambut gelapnya, menyalurkan nikmat di sana.
“Fuck— Nu, Mas sampai—”
Ah... Dia mengumpat, Mas Mingyuku itu mengumpat. Aku ikut melayang mendengarnya. Gerakan memutar yang kubuat itu berhasil membuat lelaki ini menumpahkan laharnya di dalamku. Sedang aku masih terus bergerak mengejar pelepasanku juga. Tak peduli basah nan becek pada lubangku, aku hanya ingin segera sampai.
“Gila kamu, Nu.” Mas berbisik pelan, aku balas dengan senyum lalu menarik wajahnya untuk mendekat, “Kiss me, Mas Mingyu...”
Lalu kami lanjut berciuman. Entah pada hentakan ke berapa yang aku lakukan, aku pun sampai pada puncaknya. Putihku mengotori badan kami berdua, dan bisa kurasakan lagi milik Mingyu juga menyemburkan pelepasannya yang kedua kali di dalamku.
Napas yang menderu, dahi yang menyatu juga senyum yang terbit mengalahkan terangnya bulan yang bersinar malam itu.
“You’re right, Mas bisa lihat surga— no, I also could feel what heaven’s like.”
Cengiran lebar ku sunggingkan untuk membalasnya. Menggodanya sedikit dengan jemari yang melanglang buana pada dada bidangnya, “Mau lanjut nggak?” tanyaku.
“Kamu gak capek?”
“Nope!”
“Aku yang capek. Besok nyetir ke Jakarta,” terdengar jahil dan membuatku mencebik sebal.
“Hahahaha bercanda. Bangun dulu kamu.”
Aku beranjak dan otomatis tautan kami juga terlepas, membuat lelehan sperma mengalir deras dari lubangku yang tak tertampung. Aku melongo, “Wow, banyak juga kamu keluarnya...”
Pipinya memerah malu. Aduh, lucu sekali si bongsor ini hahahaha.
Aku sudahi sampai sini ya! Sesi selanjutnya cukup aku dan Mas yang tau. Bye! :p