Ayah sakit.
content warning; mpreg, male lactation, breastfeeding.
Jam menunjukkan pukul dua siang kurang sepuluh menit. Kala yang saat itu tengah bersantai sembari menemani Princess tidur, terperanjat saat menerima pesan dari sang Suami yang mengatakan ingin dibuatkan bubur sum-sum. Kala hapal betul, kalau sudah minta dibuatkan bubur itu tanda dari suaminya sedang tidak baik-baik saja tubuhnya.
Melihat si cantik yang masih tertidur pulas. Kala beranjak dari atas ranjang dengan hati-hati, takut membangunkan sang buah hati dan berakhir Princess akan rewel karena terkejut. Setelahnya Kala naikkan bedrail, jaga-jaga supaya Princess tidak terjatuh dari ranjang.
Tepat saat bubur buatannya selesai, Kala lihat suaminya berjalan gontai menghampirinya. Wajahnya kuyu, bibirnya pucat dengan hidung yang memerah. Beberapa hari ini Gala memang sering bersin-bersin, sudah siaga memakai masker juga mengkonsumsi vitamin dan obat, namun ternyata imunnya sedang tidak bisa menopang dengan baik.
“Panas banget, Mas…” Kala sentuh dahi suaminya, mengusap pelan menghapus jejak-jejak keringat.
Gala jika sedang sakit akan menjadi manja, ingin terus diperhatikan dan Kala harus selalu dalam jangkauannya. Dulu pernah sewaktu masih bertiga, Chandra berumur sekitar delapan tahun, Gala terkena typus yang menyebabkan ia harus bed rest selama satu minggu penuh. Satu minggu pula Kala harus siap sedia di samping suaminya. Syukurnya sang anak mengerti, dan sudah belajar mandiri, apa-apa Chandra bisa sendiri jadi diberi pengertian sedikit si Abang pun bisa memahami.
“Mau mandi atau disibin aja? Tadi udah Kala siapin juga air hangatnya.”
Tubuh Kala direngkuh, Gala letakkan kepalanya itu bersandar pada bahu suaminya. Menggumam lirih yang tidak dipahami sama sekali oleh Kala. “Apa? Mau apa? Bilang, Ayah.”
“Sibin aja, bantuin ya?” Kala mengangguk mengiyakan. “Pakai maskernya dulu, aku pindahin Princess ke kamarnya sebentar.”
Gala menurut dan segera memakai lagi maskernya, mengekori Kala yang berjalan ke arah kamar mereka. Ketika membuka pintu, keduanya disambut oleh Princess yang terbangun, sedang mengulum jarinya sendiri dengan posisi yang tengkurap. Gala gemas dan ingin menghampiri sesungguhnya, namun apa daya dari pada sang Anak tertular sakitnya? Jadi Gala menahan diri saja.
“Anak Papa sudah bangun, cantik?” Kala hampiri satu-satunya perempuan di rumah mereka itu. Diraihnya Princess lalu digendongnya. Anaknya itu terlihat senang mendapati kedua orangtuanya berada di dekatnya, hingga terdengar ocehan tak jelas khas bayi juga senyum yang lebar dari si buah hati.
“Mas ganti baju dulu deh ya. Princess aku bawa ke kamarnya dulu,” ucap Kala. Gala mengangguk dan berlalu ke kamar mandi yang ada di dalam.
“Cantik, hari ini jangan rewel dulu ya? Papa mau rawat bayi gedenya Papa dulu. Iya, Ayah kamu itu bayi gedenya Papa. Ayah lagi sakit, Princess.”
Kala mengoceh sembari berjalan menuju kamar sebelah, kamar si Princess. Mengajak bicara anak perempuannya dengan harapan ucapannya akan dimengerti meskipun sang anak hanya merespon dengan kedipan lucu juga tepukan pada pipi Kala dari tangan mungilnya.
“Tunggu di sini sebentar ya? Ini Papa putarin cocomelon kesukaan Princess ya. Sebentar aja, nanti Papa ke sini lagi. Papa mau bantu Ayah bersih-bersih dulu,” sesuai ucapannya, Kala nyalakan televisi yang ada di sana. Membuka channel favorit anaknya, lalu tak lupa mengecek bedrail agar Princess tetap aman sebelum pergi dari sana.
Tenang saja, kamar Princess sudah dilengkapi dengan CCTV. Tak jarang juga Princess dibiarkan sendiri di kamarnya sementara Kala beberes rumah. Kala dan Gala memang sengaja tidak memperkerjakan nanny, karena tidak ingin anak mereka lebih bergantung dengan orang lain ketimbang orangtuanya sendiri. Jadi Gala putuskan untuk memanggil ART saja guna membantu Kala membereskan rumah, yang hanya datang dari jam tujuh pagi hingga jam empat sore.
Di lima menit pertama semuanya aman-aman saja, Kala sudah mulai membasuh tubuh suaminya dengan handuk hangat. Sedangkan Gala hanya diam, matanya mengikuti setiap pergerakan Kala.
“Habis ini buburnya aku ambilin ya, Mas makan sendiri dulu bisa? Aku mau — ”
Ucapan Kala terpotong sebab suara tangis terdengar. Matanya melirik sebentar pada iPad yang tersambung dengan CCTV, anak mereka itu tidur merebah dan menangis meraung di sana. Entah apa yang salah, Kala buru-buru beranjak dari atas kasur. “Sebentar ya, Kala tenangin Princess dulu.”
Secepat kilat Kala sudah berada lagi di dalam kamar anaknya. Meraih sang buah hati untuk ia timang-timang supaya reda tangisnya.
“Kenapa, sayang? Takut kah sendirian? Kan biasanya juga sendiri, Adek…” Kala usap lembut lelehan air mata dari pipi gembil Princess. “Mau mimi? Princess haus?” bayi berusia lima bulan itu masih menangis, dan dengan secepatnya pula Kala buka tiga kancing bajunya. Mengarahkan mulut bayinya pada salah satu nipplenya, dan disambut baik oleh si cantik. Tangisnya mereda seiring dengan kenyutan pada sumber susunya.
Kala rogoh ponsel yang ada di saku celananya. Mengetik pesan pada sang Anak lanang yang dari pagi memang sudah izin pulang terlambat untuk kerja kelompok. Setelah memastikan sulungnya pulang dengan aman. Kala kembali fokus pada bungsunya yang masih aktif mengenyut putingnya.
“Kalau kamu ikutan rewel gini Papa bingung deh, cantik…” Kala hela napasnya pelan, memilih beranjak dari kamar Princess menuju ke dapur. Mencairkan susu hasil pumping yang ia bekukan di freezer untuk diminum nanti ketika Abang datang dan menemani Princess sementara ia menghandle suaminya.
Hingga Kala bisa rasakan rengkuhan di pinggangnya, dan bahu kirinya yang memberat. Benar, suaminya itu mendatanginya mungkin karena terlalu lama ditinggal.
“Udah selesai sibinnya?” Gala menggumam iya sebagai jawaban. “Princess kenapa? Ada yang sakit juga?” tanya Gala.
“Gak tau, aku cek tadi badannya gak ada apa-apanya kok, gak ada bekas digigit nyamuk juga… Tau Ayahnya lagi sakit mungkin? Jadi dia gelisah sendiri. Kan biasanya kalau Mas udah di rumah selalu main sama dia.”
“Abang belum selesai ya kerja kelompoknya?”
“Udah, Mas tadi aku chat Abang buat cepet pulang, udah dijalan Abangnya,” Gala mengangguk, matanya bertatapan dengan si bayi yang masih asik minum susu dari puting Kala.
“Nanti ke dokter deh ya? Aku titipin Chan sama Princess ke Ibu ya, Mas?”
“Iya, sayang…”
“Mas makan di sini dulu ya, sambil nunggu Abang sampai,” Kala beralih menyendok bubur yang dibuatnya tadi ke dalam mangkuk, setelah melumurinya dengan lelehan gula merah ia sodorkan mangkuk itu pada Gala.
Kalau sedang seperti ini Kala memang yang paling kewalahan, harus terampil menggunakan tangannya mengerjakan ini itu sedang satu tangannya lagi harus menopang Princess yang bisa dibilang tidak ringan juga di dalam gendongannya. Gala jadi kepikiran akan suaminya yang kesusahan, jadi ia bertekad kali ini untuk mengurangi manjanya pada Kala. Meskipun itu memang habitnya, ia tak mau melihat suaminya itu kelelahan karena mengurus dirinya dan juga kedua anaknya.
“Abang pulang!” Chandra berteriak dari ruang tengah, berlari kecil menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul di dapur.
Si kecil yang sedari tadi tidak melepas kulumannya pada Kala pun kini mengoceh senang ketika mendengar suara Abangnya. Tangannya bertepuk kecil saking senangnya.
“Halo, cantiknya Abang! Kamu habis nangis ya?” Chandra berbasa-basi, telunjuknya itu mengelus pelan pipi gembil adiknya.
“Abang mandi dulu ya? Papa mandikan Princess juga habis itu nanti Abang jaga Princess ya? Boleh, Bang?”
“Oke, Papa!” Gala diam-diam tersenyum disela makannya. Melihat interaksi keluarga kecilnya benar-benar membuat hatinya menghangat.
Chandra menoleh pada sang kepala keluarga, lalu mendekati Ayahnya. Dipijatnya sebentar bahu sang Ayah, “Ayah cepat sembuh ya. Nanti Abang pijitin kalau mau tidur.”
“Makasih ya, Abang… Abang bantu jaga Princess aja udah cukup, nanti Abang capek kalau harus pijitin Ayah,” Chandra mengangguk dan segera berlalu dari sana, membersihkan diri sebelum menemani Adiknya nanti.
“Ke kamar ya, Yah kalau sudah. Jangan dicuci itu mangkuknya, aku mandiin si cantik dulu. Habis makan maskernya jangan lupa dipakai lagi.”
“Baik, Papa.”
Kala bersemu, panggilan Papa dari Gala itu jarang sekali di dengar secara langsung. Suaminya itu lebih sering memanggilnya dengan Sayang atau Adek. Ia jadi malu dan salah tingkah sendiri. Gala yang melihatnya hanya terkekeh, mengusap pelan surai Kala sebentar sebelum suami manisnya itu ke kamar memandikan bayinya.