Amusement park and our first kiss.
Hai? Ini aku, Milo! Ugh, maaf kalau terdengar kaku ya? Karena baru pertama kali ini aku bercerita dari sudut pandangku, hehe.
Hari ini hari Minggu, dan Mars sudah ada di rumah untuk menjemputku. Kita akan berkunjung ke Dufan sesuai dengan keinginan Mars minggu lalu. Bocah bongsor yang baru saja menjajaki usianya yang ke delapan belas itu, terus saja merengek meminta pergi ke sana. Katanya, ia ingin mencoba semua wahana berdua denganku. Padahal aku tahu, meskipun badannya tinggi besar, si Puppy itu juga lumayan takut ketinggian.
Berkali-kali juga aku pastikan, dia benar-benar mau mencoba atau nanti hanya aku saja yang menaiki semua wahana? Dan dengan anggukan antusias Mars menjawab, “Aku mau lawan takutku, biar gak cemen di mata kamu.” ah… Manisnya, si Puppy satu ini. Eh– tapi jangan salah sangka dulu, aku gak pernah melihat ketakutan Mars akan ketinggian itu menjadi sesuatu hal yang perlu dipermasalahkan atau diolok-olok, toh semua orang pasti punya ketakutannya masing-masing kan? Seperti aku contohnya, aku juga takut ketika berdekatan dengan badut yang merias wajahnya dengan warna putih, pipi yang merona serta entah itu bola atau apa aku tak tahu yang menempel di hidungnya, lalu badut itu tersenyum begitu lebar— membuatku ketakutan dan tidak mau lama-lama berada di hadapan badut yang berpenampilan seperti itu. Jadi, rasa takut akan suatu hal itu sangat wajar kan?
Ibu dan Ayah sedang bercanda dengan Mars saat aku berjalan mendekati meja makan, entah apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya seru sekali? Tawa Ayah terdengar menggelegar di sana.
“Cerita apa sih? Ketawanya Ayah gede banget,” kataku, dan aku mulai bergabung untuk melahap toast berisi nutella yang Ibu buat.
“Mars bilang kapan hari masuk ke selokan belakang sekolah, habis dikejar anak osis ketahuan telat mau manjat tembok,” Ayah menjawab masih dengan tawa yang menguar, aku pun terkekeh mengingatnya. “Kebo sih, susah dibangunin,” timpalku.
“Ih, Cil! Kan kamu tahu waktu itu aku juga habis ngebut kerjain prakarya sampai tengah malam,” Mars menjawab dengan bibir yang mencebik. Gemasnya si bongsor, hahaha.
“Bukan tugas kelompok memangnya?” kali ini Ibu ikut nimbrung bertanya, ku lihat Mars menggeleng sebelum menjawab.
“Bukan, Bu. Itu tugas perorangan, aku lupa belum kerjain. Kayaknya kalau gak diingetin Milo juga gak akan aku garap itu tugasnya hehehe.”
Ibu mendecak pelan dengan gelengan kepala, “Kamu ini, Le…”
“Nakal emang, Bu. Marahin aja,” tentu saja aku mengompori Ibu agar mengomeli Mars yang melupakan tanggungjawabnya itu. Si bayi besar hanya memasang ekspresi memelasnya, dan itu membuat seluruh kepala yang ada di sana terbahak melihatnya, termasuk aku pastinya.
“Udah cepet dihabisin itu sarapannya, nanti keburu penuh antriannya,” kata Ayah, lalu kami pun kembali fokus menyantap masakan yang sudah dibuat oleh Ibu.
Aku dan Mars tiba di Dufan tepat pukul 09.50. Oh, geez… Antriannya sudah cukup panjang di depan pintu masuk. Sebuah kesalahan memang berkunjung ke tempat ini di hari Minggu. Aku menghela napas dan Mars menoleh saat mendengarnya.
“Panas ya, Cil? Gerah? Capek?”
“Rame… Pusing dikit lihatnya.”
“Sabar sebentar ya, ini kurang lima orang tuh di depan. Nanti gak desekan lagi.”
Aku hanya mengangguk. Masih terbilang pagi tapi sinar matahari sudah terasa menyengat. Untung saja aku tidak lupa memakai sunscreen.
Kita berdua akhirnya masuk juga, sempat tertunda karena ada Ibu-ibu yang ngeyel memaksa membawa masuk satu tas penuh berisi makanan. Sudah jelas ada larangannya, kenapa masih nekat sih, Bu? Aku sebal sendiri jadinya.
Karena kita baru saja selesai sarapan, aku dan Mars memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu, mengambil foto sebanyak mungkin sebelum penampilan kita jadi acak-acakan karena menaiki wahana.
“Mars, mau minum…” aku tarik ujung kaosnya, membuat si pentolan basket itu menghentikan langkahnya. Berbalik ke arahku, lalu tanpa merasa geli atau pun jijik ia seka keringat yang mengalir di dahiku. Aku? Tentu saja malu dan salah tingkah namun sebisa mungkin ku tahan.
“Duduk ya? Aku belikan minum,” ucapnya. Mars menggiringku untuk duduk sebelum berlari kecil ke stand makanan dan minuman. Membelikan aku sebotol air dingin dan juga membawa sosis bakar di tangan kirinya.
“Makan lagi???” aku keheranan melihatnya berjalan sembari mengunyah sosisnya. Sedang dia hanya memberikan cengiran saat kutanyai.
“Laper, Yang, keliling kan juga butuh tenaga.”
Setelah Mars menghabiskan sosisnya, aku mengajaknya untuk bermain bom-bom car. Antriannya tidak terlalu banyak, aku dan Mars bisa dengan cepat bermain. Kita jadi lawan tentu saja.
“JANGAN DITABRAK TERUS!”
Benar, itu aku yang berteriak dengan kesal. Mars hanya terbahak-bahak mendengar aku marah-marah.
“Gak seru dong, Cil kalau gitu.”
Setelah menjawab begitu, si dia mulai memundurkan mobilnya. Bergerak melewati aku yang masih diam karena kesal. Mars ikut bergabung dengan anak kecil di sudut sana. Menabrakkan mobilnya dengan milik anak kecil itu lalu keduanya tertawa. Hatiku menghangat…
Melihatnya seru sendiri bermain dengan beberapa anak laki-laki di sana, aku pun melajukan mobilku mendekati Mars. Dia sedang membelakangiku, ngomong-ngomong.
“Kak! Awas itu ditabrak dari belakang!” bocah kecil yang tadi beradu dengan Mars berteriak ketika melihat aku semakin melajukan mobilku kencang.
Brak!
Hehehe aku berhasil menabrak bagian belakangnya mobil Mars. Badannya sedikit oleng karena tidak siap, tapi Mars bisa dengan sigap menegakkan tubuhnya lagi. Memutar kemudi dengan lihai dan mulai menyundul kecil mobilku dengan bagian depan mobilnya.
“Nakal ya? Tadi marah ditabrak, sekarang aku ditabrak kenceng gitu.” gerutuannya itu membuatku tertawa. Dan akhirnya kita bermain di sana bersama para bocah yang kurasa masih duduk di bangku SD.
Usai dengan bom-bom car, aku mengajak Mars menaiki komidi putar. Sangat kekanak-kanakan but who’s care? Mars sempat protes karena malu badannya yang tinggi besar itu harus menaiki kuda mainan yang terlihat lucu, sangat tidak cocok dengan dirinya, katanya. Tapi tak lama dia luluh juga saat menatapku yang sedang menampilkan begging eyes padanya. Mars usak pelan rambutku diiringi helaan napas pelan namun tetap mengangguk mengalah. Hehehe, dia memang paling lemah kalau aku berubah jadi manja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.10 pada jam di pergelangan tanganku. Sesudah menaiki komidi putar, ku ajak Mars untuk menaiki wahana yang sedikit lebih ekstrim. Kita naik kora-kora!
“Cil, yakin nih naik ini?” Mars bertanya saat kita sudah ada di baris antrian kora-kora. Panasnya makin nyengat tapi aku juga masih semangat.
“Yakin lah! Kamu gak mau? Tunggu di bawah aja gapapa kok.”
“Ih gak lah, aku temenin kamu. Kita ke sini buat seneng-seneng bareng kan.”
“Kalau takut nanti boleh peluk aku, oke, Mars?” ku lihat senyum lebar terbit dari bibirnya saat aku mengatakan dia untuk memelukku ketika ketakutan nanti.
“Oke!”
Lucu, dia jadi bersemangat menunggu antriannya. Semoga aku selalu bisa jadi alasan kamu senang ya, Mars?
Oh, akhirnya sampai juga untuk kloter selanjutnya naik ke wahana. Aku dan Mars duduk di barisan agak ke tengah, sedikit ke belakang tapi tidak di yang paling ujung, semoga kalian paham yang ku maksud.
Mulanya mesin bergerak dengan lambat, Mars masih terlihat biasa saja. Semakin lama semakin melaju cepat, membuat seluruh pengunjung yang menaiki wahana itu berteriak, entah teriak ketakutan atau malah antusias. Tak terkecuali Mars, lenganku direngkuh dengan erat, matanya terpejam dan berteriak ketakutan. Aku hanya tertawa melihatnya.
“Tenang hey, ada aku di sini…” ku bisikkan kalimat penenang tepat pada telinganya. Tanganku beralih menjulur mendekap bahu Mars dan dia menyelipkan wajahnya pada lekukan leherku. Bersembunyi di sana dengan mata yang masih tertutup rapat namun tanpa teriakan.
Beberapa menit berlalu dan mesin kora-kora mulai pelan lagi, lalu berhenti.
“Cil, perutku mual banget akh…”
Mars berlari mencari tempat sepi, jelas saja aku juga panik dan mengikutinya. Dia terlihat seperti akan muntah, aku sodorkan kantong kresek hitam yang sudah ku sediakan di dalam tas. Iya, aku tahu kalau pasti Mars akan begini setelah menaiki wahana, aku sudah antisipasi dari rumah.
Kasihan sekali si Puppy ini.
“Mau lanjut? Atau pulang aja?” aku bertanya sambil mengurut pelan tengkuknya.
“Kok pulang? Gak lah, belum cobain yang lain.”
“Kamunya sakit gini…”
“Gak sakit ini, Milo. Perutku kaget aja dikit.”
Keras kepala sekali, huh!
“Makan dulu yuk kalau gitu?”
Mars mengangguk, dan kita berlalu dari sana. Membeli air mineral untuk menetralkan rasa asam di dalam mulut Mars sebelum berjalan ke arah foodcourt dan makan di salah satu tempat fast food di sana.
Selesai dengan agenda makan kita, akhirnya Mars memutuskan untuk menyeretku menaiki niagara gara. Tenang, kita sudah menyiapkan baju ganti kok dari rumah! Mars yang ingin sekali mencoba wahana ini, jadi dari jauh hari pun dia sudah mengingatkan aku untuk membawa baju ganti.
Mars minta duduk di depan ngomong-ngomong, aku di belakangnya dan ada dua lagi pengunjung lain yang satu boat dengan kita. Sebetulnya tidak terlalu tinggi — menurutku, tapi Mars sudah berteriak “CIL, TINGGI BANGET CIL HUAAAAA,” begitu teriaknya ketika kapal meluncur dari ketinggian, sedangkan aku? Tentu saja menertawakan si bayi besar ini.
Takut juga sok sekali ingin di depan hahaha.
Karena baju kita yang sedikit basah, aku pun menarik Mars mencoba arung jeram. Panas-panas begini memang enaknya bermain air, kan?
Si bayi besar itu mengangguk, terlihat girang karena dia tidak takut. Mars pernah mencoba arung jeram saat study tour dulu, jadi kali ini ku jamin dia akan banyak tertawa saat terombang-ambing nanti.
Beres berganti baju setelah bermain di arung jeram. Kita berdua santai dulu, membeli beberapa cemilan dan juga minum. Lalu pergi ke istana boneka dan dunia kartun, mengambil banyak foto juga di sana. Menetralkan adrenalin terlebih dahulu sebelum mencoba wahana yang ekstrim lagi.
“Habis ini halilintar mau?” aku bertanya pada Mars yang sibuk menyedot jus yang ada di tanganku. Wajahnya pasi seketika.
“Yang lain aja boleh gak, Cil…”
Aku terkekeh mendengar Mars menjawab dengan lirih.
“Iyaaa, yaudah skip halilintar. Ke hysteria, ontang-anting, habis itu bianglala aja ya? Terus pulang, gimana?”
“Oke, Cil!”
Senyuman lucu —gigi taringnya terlihat menyembul— terbit dari paras tampannya, membuatku ikut tersenyum tak kalah lebar. Jangan bilang-bilang kalau aku bilang dia tampan ya? Nanti Mars besar kepala.
Mm, aku mau ceritakan lebih detail tapi sewaktu kita menaiki hysteria dan juga ontang-anting hanya berisi teriakan Mars, jadi tidak usah ya? Pun masih sama ketika turun dari dua wahana itu, Mars pucat pasi, tidak sampai muntah sih tapi lucu karena dia terlihat lemas seperti sayur kangkung hahahaha.
Tiba juga ke destinasi terakhir kita, bianglala, yay!
Kami masih mengantri, sinar matahari juga tak seterik tadi. Aku melirik pada jam tanganku, pukul 15.40 pantas saja sudah tidak terlalu panas.
“Aman kan ya, Cil? Gak mungkin kan kita tiba-tiba jatuh dari atas?” pertanyaannya agak diluar nalar tapi aku maklum, pasti dia juga takut karena nanti juga si bianglala ini akan bergerak lambat.
“Tenang aja, banyakin doa waktu di atas,” aku menjawabnya dengan nada menggoda. Sengaja.
“Ih, Cil~ yang bener ajaaaa.”
Mars merengek seperti anak kecil, tangannya meremas jemariku yang ada di genggamannya. Rengekannya itu membuat bocah SMP (sepertinya) yang ada di depan kita berdua menoleh dan tertawa kecil.
“Tuh, diketawain adeknya.”
“Milooo~”
“Bawel, nanti aku pegangin kalau takut.”
Ada helaan napas darinya.
Buru-buru ku tarik si jangkung ini memasuki kabin saat sudah giliran kami sebelum semakin banyak merengek di antrian.
Mars memejamkan matanya, lengannya yang besar itu merangkul pundakku erat. Padahal baru berjalan belum sampai setengah dari tinggi bianglala ini.
“Matanya dibuka coba, itu lihat pemandangannya. Rugi kamu naik ini tapi merem begitu.”
Aku ambil ponselku dari saku celana, memotret pemandangan yang disuguhkan.
“Lihat kamu aja lah, lebih cakep dari pemandangan.”
Aku acuh saja dan terus mengambil foto dengan ponsel. Tanpa sadar Mars ternyata benar-benar membuka matanya dan menatapku. Tangannya masih bertengger di bahuku dua-duanya. Membuat hidungku dan hidungnya bergesekan saat aku menoleh ke arahnya.
“Mukamu deket banget, Mars…”
Mars masih diam. Maniknya menatap mataku begitu dalam. Anak ini kenapa sih?
“Manis banget deh, Mil?”
Geez… Pipiku terasa panas. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu sedangkan wajahnya tidak berjarak sama sekali denganku?
“May I… Kiss you, Milo?”
Tatapannya begitu lembut, membuat aku ikut tenggelam di balik irisnya. Entah sihir apa yang Mars gunakan hingga aku hanya mengangguk pelan, menyanggupi pertanyaannya.
Perlahan bibirnya menempel pada bibirku. Hanya menempel, tanpa pergerakan lebih. Kedua tangannya sudah beralih menggenggam masing-masing pipiku, kurasakan ibu jarinya mengelus lembut pipi kananku.
Aku… meleleh dibuatnya…
Aku sempat melirik ke belakang, ternyata kita hampir berada di ujung ketinggian.
Lalu aku pejamkan kedua bola mataku, menikmati afeksi yang diberikan si Puppy dari bibir yang bertaut juga usapan lembut yang singgah di pipi.
Bisa aku rasakan bibir Mars bergerak pelan, basah — lidahnya dengan sengaja membelai halus bibir bawahku. Ah, gila. Rasanya aku ingin melebur jadi satu bersama angin yang menerpa.
Seperti banyak kupu-kupu berterbangan di perutku ketika Mars mulai melumat pelan bibir bawahku. Aaaaa Ibuuu~!
Kenapa dia lembut sekali memperlakukanku? Aku ingin menjerit tapi jelas tidak mungkin. Jadi kunikmati saja pagutannya. Euh– aku bingung harus bagaimana sebetulnya. Aku belum pernah ciuman. Yang aku lakukan hanya diam dan sedikit membuka mulutku, membiarkan Mars mempermainkan bibirku semaunya.
Tak lama, Mars menjauhkan kepalanya. Melepas tautan bibir kami dan senyum mengembang begitu manis, lagi-lagi membuatku salah tingkah.
“It tastes as sweet as cherry.”
??? Bisa aku bayangkan semerah apa mukaku saat ini.
Memang paling benar adalah Mars bertingkah aneh dan membuatku naik darah daripada dia yang bertingkah manis seperti saat ini.
Tanganku spontan menepuk keningnya pelan. Berpura-pura kesal merupakan jalan yang kupilih agar tidak terlalu terlihat salah tingkah.
“Idih, malu dia hahahaha.”
Oh– doaku dikabulkan. Dia langsung bertingkah menyebalkan.
“Nanti aku ajarin deh, Cil gimana ciuman yang enak,” kali ini dia berbisik pelan di telingaku. Yang ini benar-benar membuatku naik pitam.
Kucubit kesal paha tebalnya itu, “Diem gak?!” dan si dia ini jelas saja terbahak-bahak melihat responku.
Kakiku menghentak saat keluar dari kabin bianglala. Meninggalkan Mars yang masih tertawa di sana.
Cih, biar saja dia dipandang aneh oleh pengunjung lain!